Jakarta – Di negeri +62 yang katanya “ramah tamah”, ternyata logika malah jadi tamu yang sering nggak diundang. Kadang malah diblock sebelum bisa masuk grup WhatsApp keluarga. Bayangkan, di tengah gegap gempita demokrasi dan serbuan teknologi, logika malah kayak sandal jepit di masjid: sering hilang tanpa jejak.
Kalau zaman dulu orang bilang, “hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga,” maka sekarang: hidup tanpa logika, bagai rakyat tanpa subsidi BBM—panas!
Mendukung Tanpa Logika: Fanatisme Level Dewa
Lihat saja, ada tokoh politik ngebet naik jabatan padahal rekam jejaknya kayak jalan rusak—banyak lubang skandal. Tapi tetap saja, didukung mati-matian kayak idola K-pop. Alasannya? “Udah cocok dari dulu.” Lah, cocok buat apa? Buat dijadiin pajangan di museum kebijakan ngawur?
Cintanya udah kayak lirik Agnes Monica:
“Cinta ini, kadang-kadang… tak ada logika…”
Bedanya, ini bukan cinta. Ini keblinger massal.
Berteman Tanpa Logika: Solidaritas Buta
Pernah lihat orang bela temennya yang ketahuan ngibul cuma karena, “Yah, dia baik kok ke gue…”?
Lha gimana, kalau malingnya ngasih THR juga, masa langsung dinobatkan jadi pahlawan nasional?
Gareng pun geleng-geleng kepala. Petruk sampai muntah tiga kali gara-gara debat medsos yang isinya “yang penting dia seiman”, padahal keimanan bukan jaminan kejujuran, bro!
Politik dan Logika: Musuhan Sejak Lama?
Akhir-akhir ini logika dan politik udah kayak mantan pacar yang saling blokir. Coba liat:
Kebijakan diukur dari siapa yang ngomong, bukan apa yang dibawa.
Rakyat lebih percaya meme daripada data.
Hoaks naik daun, klarifikasi diabaikan.
Kondisi ini udah masuk level “Gawat Darurat Akal Sehat Nasional”. Bukan main-main. Ini bukan sekadar kurang piknik, ini udah kurang mikir!
Ruang Digital: Panggung Drakor Nalar Ambyar
Di medsos, kalau kamu pake logika, siap-siap dibully. Yang viral bukan yang masuk akal, tapi yang masuk FYP. Edukasi ditinggalin, yang diangkat justru konspirasi dan “kata temen gue sih…”
Echo chamber makin kuat. Confirmation bias jadi agama baru. Semua ingin jadi benar sendiri, bahkan kalau itu artinya harus menyalib logika di tiang status Facebook.
Pendidikan Kritis: Ditinggal Sejak SD?
Anak muda sekarang lebih fasih debat tentang siapa ship yang cocok di drakor daripada membedakan opini dan fakta. Ini bukan salah mereka sepenuhnya. Pendidikan kita lebih fokus bikin hafalan daripada berpikir. Yang penting nilai UN bagus, bukan otak yang jalan.
Gareng bilang: “Kita ini bangsa yang pintar menghapal, tapi malas mikir. Jadinya kayak komputer full storage tapi RAM 512 MB—nge-hang tiap ada konflik!”
Solusi: Balikin Logika, Jangan Dibuang Kayak Mantan
Kalau negeri ini mau waras lagi, langkah kecil bisa dimulai dari:
1. Ajarkan anak muda berpikir kritis. Jangan cuma bangga kalau anak bisa ranking 1, tapi gak bisa bedain berita hoaks sama satire.
2. Biasakan bertanya sebelum percaya. Jangan cuma karena yang ngomong pakai jas, langsung dianggap suci.
3. Pisahkan loyalitas dari kebenaran. Kalau salah ya bilang salah, meski itu teman separtai atau se-timeline.
4. Hormati beda pendapat yang pakai otak, bukan otot.
Logika Itu Bukan Musuh
Logika bukan pembunuh perasaan. Justru logika itu penjaga kewarasan. Di dunia yang makin ribut, logika adalah headset bluetooth kita: menjaga agar suara hati tetap jernih di tengah kebisingan politik, pertemanan, dan tontonan.
Kalau bangsa ini terus jalan tanpa logika, siap-siap saja jadi negara yang pintar bikin drama, tapi gagal bikin keputusan.
Gareng dan Petruk pamit dulu, mau beli logika kiloan di pasar. Katanya mulai langka sejak disubsidi perasaan.
Ayo jaga logika! Jangan sampai anak cucu kita cuma tahu logika dari buku pelajaran, bukan dari perilaku orang dewasa di sekitarnya.
















