Senin, 23 Juni 2023
“Kalau emas bisa bicara, mungkin dia sudah teriak: ‘Aku diambil orang yang sudah pernah minum kopi di dapur ini!’”
Situbondo — Malam itu mestinya malam yang sunyi. Tapi ternyata, Situbondo punya plot twist. Seketika suasana di Dusun Tanjung Sari Timur, Desa Tanjung Kamal, berubah jadi seperti lokasi syuting sinetron kriminal. Lampu sorot HP warga menyala bersamaan, kayak konser dangdut mini. Polisi datang, warga berkumpul, dan pelan-pelan satu kata jadi trending di kalangan warga:
“pencurian!”

Adalah Fahri (26), pemuda tampan beristri satu — ini penting, karena sekarang banyak yang muda tapi istrinya dua, tiga, bahkan belum sah. Bersama temannya, Jalil, ia melaporkan bahwa perhiasan emas sang istri tercinta, Yanti (26), raib entah kemana. Nilainya? Sekitar 28 juta rupiah. Lumayan buat DP rumah subsidi, atau tiga kambing kurban.
Warga pun berdiri mematung di depan rumah Fahri, seperti sedang nonton episode terakhir sinetron Ikatan Cinta yang Kehilangan Kalung. Semua khusyuk menatap petugas dari Resmob Polres Situbondo dan Polsek Mangaran yang sedang olah TKP. Tapi, bukan cuma khusyuk, sebagian juga kepo tingkat RT, bisik-bisik di balik masker, “Jangan-jangan… orang dalam!”

Inafis Turun Gunung: Detektif Sidik Jari Beraksi
Keesokan harinya, tim Inafis datang. Serius, penampilan mereka udah kayak tim dokter di ruang operasi, lengkap dengan alat-alat canggih — minus bau karbol. Tapi bukan nyelametin nyawa, mereka datang untuk nyelametin kebenaran. Jejak-jejak di rumah diperiksa. Dinding, lemari, bahkan gelas teh sisa malam sebelumnya pun tak luput dari pantauan.
Konon, pelakunya tidak meninggalkan jejak masuk paksa, tidak ada kunci rusak, tidak ada pintu dibobol. Lah iya, namanya juga diduga orang dalam. Kalau maling biasa pakai linggis, maling yang ini cukup pakai senyum manis dan akses penuh ke isi lemari.
Warga Berharap Kasus Tak Jadi Drama Tak Tuntas
Seorang warga yang enggan disebut namanya — mari kita sebut saja inisialnya Pak W, berkata,
“Semoga laporan ini tidak dicabut, Mas. Kalau dicabut, bisa berabe. Fitnah jalan, curiga merajalela. Apalagi ini kasusnya sudah kayak gado-gado keluarga.”
Dan benar saja, kasus orang dalam itu rumit, Bung! Salah-salah, suami curiga istri, istri curiga asisten rumah tangga, tetangga curiga cucunya sendiri. Lama-lama, rumah bisa kayak film detektif India, penuh intrik dan tatapan tajam.
Garengpetruk Menyimpulkan
Begini lho, rek. Kalau ada maling dari luar, kita bisa pasang teralis. Tapi kalau dari dalam? Lha piye carane? Masa iya, pasang CCTV di hati tiap orang?
Kasus ini mengingatkan kita bahwa:
1. Kepercayaan itu mahal, tapi jangan sampai jadi gratisan untuk orang yang licik.
2. Orang dalam itu kadang lebih bahaya dari orang luar, karena dia tahu kapan kamu lengah, bahkan tahu di mana kamu sembunyikan surat cinta mantan.
3. Jangan cepat mencabut laporan, karena yang rugi bukan cuma emasnya hilang, tapi juga kemanusiaan yang semakin bias antara curiga dan percaya.
Kalau benar pelakunya orang dalam, semoga tertangkap. Kalau bukan, semoga tidak ada yang terfitnah. Tapi yang paling penting, semoga emasnya balik, atau minimal… diganti pakai cincin emas imitasi, asal cinta tetap orisinil.
Salam dari Situbondo,
Gareng dan Petruk nulis sambil ngopi,
tapi hati tetap waspada…
Siapa tahu kopi kami juga diembat orang dalam.
















