Bandung, 19 Juni 2025 — Di antara hiruk-pikuk kota yang makin kreatif tapi juga makin kritis soal bau, hadir sebuah pertemuan yang lebih penting dari flash mob di Alun-alun. Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Dr. H. Mulyadi, turun gunung dari Gedung Nusantara ke Balai Kota Bandung, bertemu dengan Walikota Bandung, Kang Farhan, dalam rangka silaturahmi yang bukan basa-basi: mencari solusi atas persoalan sampah di Kota Kembang.
Bukan acara seremonial doang. Bukan pula sekadar pencitraan selfie politik. Ini soal krisis yang bisa nyangkut di hidung, mata, bahkan hati warga Bandung.
Sampah: Jangan Cuma Didaur, Tapi Dibenahi
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat (tapi tidak aromatik seperti TPS), Dr. H. Mulyadi menegaskan bahwa sampah tidak boleh jadi warisan pejabat ke pejabat.
“Kalau jabatan diganti tiap periode, sampah juga harus diganti dengan solusi. Jangan sampai rakyat cuma ganti pemimpin, tapi tetap ngadepin bau yang sama,” tegas Mulyadi.
Sebagai anggota Komisi VI DPR RI yang bermitra dengan BUMN, Kementerian Perdagangan, dan UMKM, Pak Mulyadi datang membawa misi: libatkan BUMN dan sektor swasta dalam solusi konkret penanganan sampah di Bandung.
“Kami di Komisi VI siap dorong sinergi antara BUMN dan Pemkot. Kalau perlu, CSR perusahaan jangan cuma bikin tugu, tapi bantu alat olah sampah. Edukasi warga juga penting, jangan sampai masyarakat cuma bisa buang, tapi nggak ngerti akibat,” ujar beliau dengan penuh semangat.

Farhan: Sampah Jangan Jadi Komoditas Politik
Walikota Farhan, yang dulu dikenal sebagai pemandu acara cerdas, kini ditantang menyulap masalah kota agar tak terus-terusan jadi konten pengaduan. Soal sampah, Farhan mengaku itu persoalan kompleks: soal budaya, manajemen, dan kesadaran publik.
“Kami butuh dukungan dari pusat. Dari segi anggaran, teknologi, hingga kemitraan. Dan Alhamdulillah, Pak Mulyadi datang bukan cuma menyapa, tapi menawarkan solusi nyata,” ungkap Farhan.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan DPR RI dan BUMN bisa jadi kunci membenahi TPS, memperluas fasilitas pengolahan, hingga menciptakan lapangan kerja dari sampah.
Dari Komisi ke Kampung: BUMN Harus Turun Tangan
Dr. Mulyadi juga menyebut bahwa Bandung sebagai kota padat dan penuh kreativitas bisa menjadi pilot project pengelolaan sampah modern berbasis teknologi dan ekonomi hijau.
“Sampah jangan terus disampahkan. Kalau dikelola, ini bisa jadi emas. Saya mendorong BUMN – BUMN , bahkan perusahaan logistik untuk kolaborasi. Jangan cuma nonton,” katanya, penuh sindiran halus.
Sindiran ala Petruk: Jangan Cuma ‘Gerakan Pungut Sampah’ Pas Hari Lingkungan
Kalau Gareng Petruk boleh ikut komentar, masalah sampah di kota besar itu ibarat skripsi mahasiswa: ditunda-tunda, makin numpuk, makin bikin stres. Tapi beda dengan skripsi, sampah bisa meledak jadi bencana—bukan hanya mental, tapi juga banjir dan penyakit.
Untungnya, silaturahmi politik kali ini nggak nyampah. Mulyadi dan Farhan tampak satu frekuensi: “Jangan cuma ramai pas Hari Bumi, lalu sepi pas musim hujan.”

Arah ke Depan: Sampah Jadi Solusi, Bukan Takdir
Pertemuan ini membuka peluang besar:
Sinergi program pusat-daerah
Keterlibatan BUMN dalam pengolahan dan edukasi
Potensi UMKM dan startup pengelola limbah
Edukasi publik yang berkelanjutan, bukan musiman
“Sampah tidak boleh jadi takdir kota besar. Tapi bisa kita ubah jadi sumber energi, ekonomi, bahkan prestasi. Asal kita kerja bareng, bukan saling lempar tanggung jawab,” pungkas Dr. Mulyadi.
GarengPetruk.Com
Tetap kritis dengan isi, tapi lurus dalam maksud. Dari sampah jadi solusi, dari politik jadi aksi.















