• Berita Nasional
  • Berita Internasional
  • Berita Daerah
  • Berita Hukum
  • Berita Tekhnologi dan Sains
  • Berita Humaniora & Budaya
  • Pojok Opini
Rabu, Juni 3, 2026
Harian Nasional Gareng Petruk
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Berita Nasional
  • Berita Internasional
  • Berita Daerah
  • Berita Hukum
  • Berita Tekhnologi dan Sains
  • Berita Humaniora & Budaya
  • Pojok Opini
  • Berita Nasional
  • Berita Internasional
  • Berita Daerah
  • Berita Hukum
  • Berita Tekhnologi dan Sains
  • Berita Humaniora & Budaya
  • Pojok Opini
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Pintar Tapi Tidak Berperikemanusiaan: Indonesia Di Tangan Para “Cerdik Pandai” Tanpa Nurani

maisput by maisput
Juni 11, 2025
in Kolom Edukatif atau Inspiratif, Kolom Humor, Kolom Reflektif, Kolom Satir atau Sindiran Sosial, Pojok Opini, Serial Gareng Petruk
0 0
0
Pintar Tapi Tidak Berperikemanusiaan: Indonesia Di Tangan Para “Cerdik Pandai” Tanpa Nurani
0
SHARES
17
VIEWS
Bagikan Ke FacebookBagikan Ke XBagikan Ke WhatsappBagikan Ke Google

> “Ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh.”
—Albert Einstein

 

READ ALSO

Risiko dan Perlindungan Pejabat Pemerintah: Pelajaran dari Kasus Bu Ari Sego Liwet

Antara Dunia yang Sepi dan Dunia Transaksional

Di zaman yang serba canggih ini, manusia makin pintar, makin cepat, makin hebat. Tapi sayang seribu sayang, makin tidak punya rasa. Pinter otaknya, tapi hati kosong melompong. Ilmunya tinggi, tapi kemanusiaannya jeblok. Lihatlah Indonesia, negeri kaya raya, tapi dikuasai oleh manusia-manusia pintar yang kehilangan satu hal: perikemanusiaan yang adil dan beradab.

Kita bukan kekurangan doktor, profesor, jenderal, ustaz, pastor, atau pejabat. Kita kekurangan manusia. Yang benar-benar manusia. Yang bisa merasakan sakitnya orang lain, bukan cuma fasih pidato dan debat soal Pancasila.

—

Level Tertinggi: Pejabat Negeri, Pengatur Takdir Rakyat

Coba cek berita. Hampir tiap minggu ada pejabat korupsi. Uang rakyat dihisap seperti nyamuk menghisap darah balita. Katanya demi pembangunan, nyatanya buat beli rumah tiga lantai, mobil tujuh pintu, dan pelihara kucing impor dari Norwegia.

Contoh nyata?

Kasus BTS Kominfo: uang hampir Rp 8 triliun raib ke langit (2023).

Skandal tambang ilegal: merusak alam, menyuap aparat, mengusir warga lokal.

Dana bansos disunat saat pandemi: ketika rakyat lapar, para pejabat malah pesta di meja makan.

> “Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut korup secara absolut.”
—Lord Acton

 

Pejabat kita bukan kekurangan kecerdasan. Mereka sekolah di luar negeri, doktor dari universitas top. Tapi akhlak dan empatinya seperti kabel putus—tak tersambung ke rakyat yang menderita.

—

Level Menengah: Rohaniawan dan Akademisi, Mulutnya Bersih Tapi Hatinya Penuh Debu

Kalangan rohaniawan? Jangan kira semua malaikat. Ada yang menjual surga dengan tarif transfer. Ada yang lebih sibuk cari panggung politik daripada menuntun umat.

Akademisi? Banyak yang berubah jadi buzzer akademik. Pikirannya tajam, tapi bukan untuk rakyat. Untuk proyek. Untuk konsultan. Untuk kekuasaan.

Lihat saja debat-debat publik: mereka saling lempar kutipan, tapi lupa mengutip nurani. Mereka punya kata-kata indah, tapi lupa bahwa kebenaran bukan soal teori, melainkan keberanian menyuarakan yang lemah.

> “Orang bijak bukan yang banyak berkata-kata, tapi yang bisa menjaga manusia dari luka.”
—Ali bin Abi Thalib

 

—

Level Rakyat Biasa: Antara Korban dan Komplotan

Rakyat biasa pun ikut larut. Ada yang pasrah, ada yang menyerah, dan tak sedikit yang ikut-ikutan jahat karena lapar dan marah. Di medsos, berita hoaks jadi sarapan. Fitnah jadi hiburan. Empati jadi konten.

> Rakyat kita pintar—terutama dalam hal meneruskan informasi yang salah, membela tokoh yang salah, dan marah pada hal yang tak penting.

 

Teknologi yang mestinya jadi jembatan jadi jurang. Gawai pintar dipakai buat konten bodoh. TikTok dijadikan seminar kebencian. Kecanggihan tanpa karakter seperti pedang di tangan anak kecil.

—

Pondasi Yang Roboh: Nasionalisme Tanpa Jiwa

Kita berteriak “NKRI harga mati!” tapi lupa bahwa nasionalisme bukan slogan. Itu sikap hidup. Itu keberanian berkata tidak pada kesewenang-wenangan. Tapi hari ini, nasionalisme hanya jadi wallpaper kampanye. Dipakai buat stempel, bukan kompas moral.

> “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.”
—Soekarno
Tapi kini, pahlawan yang dihormati adalah yang viral, bukan yang bermoral.

 

—

Teknologi Tanpa Jiwa: Jalan Menuju Kehancuran

AI, robotik, otomasi—semua sedang kita bangun. Tapi kalau karakter manusia tidak ikut berkembang, maka kita sedang menciptakan mesin pembunuh masa depan. Masyarakat kita sedang berubah dari beradab menjadi beradat, dari berhati menjadi berhitung.

> Menurut studi Pew Research (2023), 61% masyarakat dunia khawatir teknologi AI akan memperparah ketimpangan sosial.
Di Indonesia? Kita sibuk bikin filter muka glowing dan suara Google Translate lucu-lucuan.

 

—

Penutup: Indonesia Sedang Sakit, Tapi Masih Bisa Sembuh

Indonesia bukan kekurangan pemikir, tapi kekurangan perasa. Kekurangan pendengar. Kekurangan penangis. Kita butuh manusia yang bisa menahan tangis saat melihat sesama terinjak, bukan yang sibuk nyari angle terbaik buat selfie di tenda bencana.

Kata Jalaluddin Rumi:

> “Apa gunanya ilmu, jika tidak membimbingmu pada cinta?”

 

Dan kata Gareng Petruk:

> “Apa gunanya pintar, kalau akhirnya jadi alat penghancur bangsa sendiri? Wong edan sing waras ngalah, tapi kalau semua edan, waras kudu ngelawan!”

 

Mari kita bangun kembali Indonesia. Bukan dengan teknologi semata, tapi dengan hati. Dengan akhlak. Dengan kesadaran bahwa menjadi manusia lebih penting daripada sekadar menjadi cerdas.

—

Bogor, 11 Juni 2025
Nyruput kopi, sambil nulis di bawah pohon, nunggu matahari tak terlalu sinis ☕🌲

Post Views: 781

Related Posts

Risiko dan Perlindungan Pejabat Pemerintah: Pelajaran dari Kasus Bu Ari Sego Liwet
Kolom Tokoh Fiktif

Risiko dan Perlindungan Pejabat Pemerintah: Pelajaran dari Kasus Bu Ari Sego Liwet

November 24, 2025
Antara Dunia yang Sepi dan Dunia Transaksional
Pojok Opini

Antara Dunia yang Sepi dan Dunia Transaksional

Oktober 31, 2025
Pemuda, Kopi, dan Revolusi yang Masih di Cicil di Warung
Kolom Tokoh Fiktif

Pemuda, Kopi, dan Revolusi yang Masih di Cicil di Warung

Oktober 29, 2025
JANGAN PANGGIL AKU AYAH
Pojok Opini

JANGAN PANGGIL AKU AYAH

Oktober 27, 2025
Ketum DPP Pasukan 08: Reshuffle Prabowo Sesuai Prediksi, Tapi Menteri Keuangan Bikin Shock!
Pojok Opini

Dari Relawan Jadi Jutawan — Dari Kader Menuju Miliarder: Kisah Sunyi Perjalanan Pasukan 08

Oktober 19, 2025
Pasukan 08: Sufistik, Sunyi, dan Satu Komando di Antara Rakyat
Pojok Opini

Pasukan 08: Sufistik, Sunyi, dan Satu Komando di Antara Rakyat

Oktober 17, 2025
Next Post
Polres Batu Joget Gobak Sodor Bareng Bhayangkari: Bhayangkara Sehat, Belut Aman, Rakyat Tenang?

Polres Batu Joget Gobak Sodor Bareng Bhayangkari: Bhayangkara Sehat, Belut Aman, Rakyat Tenang?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

7 Lokasi Wisata Di Sukamakmur Puncak Dua Bogor Yang Wajib Kamu Kunjungi Bareng Keluarga

7 Lokasi Wisata Di Sukamakmur Puncak Dua Bogor Yang Wajib Kamu Kunjungi Bareng Keluarga

November 29, 2024
Organ Tubuh: Saksi Bisu yang Mengungkap Kebenaran

Organ Tubuh: Saksi Bisu yang Mengungkap Kebenaran

April 30, 2025
Foto : Kolonel Laut (K) dr.R. Rukma Juslim, Sp.JP., FIHA. Wakamed RSPAL dr. Ramelan Surabaya.

RSAL Ramelan Surabaya Guncang Dunia Medis: “Thrombectomy” Jadi Jurus Pamungkas Kalahkan Penyakit Jantung Tanpa Pasang Ring!

Juli 20, 2025
Jonggol Segera Punya Jalan Tol Rp15,37 Triliun: Warga Siap-Siap!

Jonggol Segera Punya Jalan Tol Rp15,37 Triliun: Warga Siap-Siap!

Oktober 4, 2024
Keris Palembang: Senjata Khas dengan Keunikan dan Makna Mendalam

Keris Palembang: Senjata Khas dengan Keunikan dan Makna Mendalam

April 15, 2025

EDITOR'S PICK

Tanahku, Surgaku… Kok Sekarang Jadi Milik Bos Mafia?

Tanahku, Surgaku… Kok Sekarang Jadi Milik Bos Mafia?

Mei 13, 2025
Kolom Pembaca GP News “Punakawan, Filsafat Hidup Rakyat yang Makin Jarang Dipakai, Tapi Sering Dipamerkan”

Kolom Pembaca GP News “Punakawan, Filsafat Hidup Rakyat yang Makin Jarang Dipakai, Tapi Sering Dipamerkan”

Juni 23, 2025
May Day 2025: Bukan Sekadar Demo, Tapi Menyetel Negara!

May Day 2025: Bukan Sekadar Demo, Tapi Menyetel Negara!

Mei 1, 2025
Ayah Farel Prayoga Keciduk Judi Online: Ketika “Ojo Dibandingke” Berubah Jadi “Ojo Dadi Bandar Judi”

Ayah Farel Prayoga Keciduk Judi Online: Ketika “Ojo Dibandingke” Berubah Jadi “Ojo Dadi Bandar Judi”

Juni 11, 2025

Tentang GarengPetruk.com

Harian Nasional Gareng Petruk

“Harian Nasional Gareng Petruk – berita tajam, jujur, dan kritis, disampaikan dengan humor segar ala warung kopi.”

Follow us

Kategori

Recent Posts

  • Nyantri, Nyakola, Nyunda: Mahasiswa Turun Desa, Bukan Turun Gengsi
  • SITIE KEDELAK: Bukan Nama Jajanan, Tapi Cara Negara Nengok Anaknya
  • Ngopi Bukan Sekadar Seruput: Lapas Klaten Seduh Kinerja, Bukan Gosip
  • Lapas Klaten Ikut Apel Virtual: Seragam Rapi, Zoom Nyala, Integritas Diuji
  • Jurnalis Gareng Petruk
  • Redaksi Harian Nasional Gareng Petruk
  • Pedoman Media Siber

© 2023 GarengPetruk.com - Portal Berita Nasional Ahliaiti.

No Result
View All Result
  • Beranda Rakyat Jelata
  • Tentang Gareng Petruk
    • Jurnalis Gareng Petruk
    • Pedoman Media Siber
    • Kode Etik Jurnalis Gareng Petruk
  • Merchandise
  • Indeks
  • Redaksi Harian Nasional Gareng Petruk
  • Login
    • Account
    • Dashboard
    • Edit

© 2023 GarengPetruk.com - Portal Berita Nasional Ahliaiti.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In