KOTA BATU – Sabtu, 7 Juni 2025 – Di tengah hiruk-pikuk dunia yang makin sibuk bikin drama dari medsos, warga RT. 33 RW. 08 Sekar Putih, Pendem, Kecamatan Junrejo malah bikin cerita lain: cerita tentang sapi, semangat, dan solidaritas.
Iya, benar. Hari itu bukan cuma sapi yang disembelih, tapi juga ego pribadi. Di bawah terik matahari dan aroma sate masa depan, warga bersama para santri dari Pondok Pesantren Bahrul Muhtadin menyulap tanah lapang jadi panggung sakral penyatuan hati.
> “Yang penting bukan siapa motongnya, tapi siapa yang rela berkorban… dan siapa yang pegang pisau tanpa baper!” – kata Gareng sambil nyimak dari balik pohon alpukat.
—
Idul Adha: Bukan Cuma Tentang Daging, Tapi Tentang Daya Juang
Kegiatan ini bukan kayak sinetron religi dadakan di layar kaca. Ini nyata:
Warga gotong daging, bukan hoaks.
Santri motong, bukan ngedit konten.
Ibu-ibu motong daun pisang, sambil motong gosip tipis-tipis.
Semua bergerak serentak, ibarat orkestra… cuma bedanya, nadanya adalah “dorong sapi, iris daging, bungkus berkah.”
—

KH. Nur Muhamad Fadillah: Kyai Sekaligus Dirijen Gotong Royong
Pemimpin pondok pesantren, KH. Nur Muhamad Fadillah, tak cuma duduk sambil minum kopi dan selfie pakai peci. Beliau langsung turun tangan, membuktikan bahwa kebersamaan itu bukan teori khutbah, tapi praktik nyata.
> “Kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Ini menyembelih sifat egois, lalu membungkusnya dalam plastik kebersamaan,” ujar beliau sambil nahan emosi karena sapi sempat lari.
Gareng manggut-manggut: “Kalau semua pejabat punya semangat kayak kyai ini, mungkin utang negara juga bisa disembelih bareng-bareng.”
—
Warga Sekar Putih: Bukan Sekadar Nama, Tapi Mentalitas!
Namanya saja sudah cantik: Sekar Putih. Tapi ternyata yang putih bukan cuma bunganya—hatinya juga.
Warga dari tua, muda, remaja rebahan, hingga anak-anak TikTok-an semua turut serta. Yang biasanya cuek di grup WhatsApp, hari itu mendadak rajin datang lebih pagi dari ayam.
> “Ini bukan sekadar kolektifitas. Ini kolektivitas dengan cinta,” kata Bu Marsinah, sambil membagikan daging kurban dan senyum gratisan.
—
Sindiran Halus Tapi Nampol: Ini Baru Rakyat Indonesia Asli
Gareng tak bisa nahan untuk nyeletuk:
> “Kalau aja proyek infrastruktur dibangun dengan semangat kayak penyembelihan ini, mungkin jembatan gak roboh, dan APBN gak bocor.”
Di tengah zaman di mana rapat sering lebih panjang dari kerja nyata, warga Sekar Putih membuktikan satu hal penting: bahwa gotong royong itu bukan kenangan masa kecil, tapi solusi masa depan.
—
Penutup: Di Sekar Putih, Kurban Bukan Cuma Ritual, Tapi Revolusi
Hari itu, bukan cuma kambing dan sapi yang “disampaikan” ke langit, tapi juga doa, semangat, dan persaudaraan yang dikirim ke sesama.
Bukan dengan amplop dan jargon, tapi dengan peluh dan tangan yang tak takut kotor.
Gareng Petruk kasih bintang lima buat warga Sekar Putih:
⭐ Gotong royong
⭐ Solidaritas
⭐ Santai tapi serius
⭐ Sapi tanpa politisasi
⭐ Semangat kolektif tanpa cari panggung
—
> “Di Sekar Putih, sapi boleh tumbang, tapi semangat rakyat justru bangkit!”
“Yang dikurban bukan cuma hewan, tapi juga sifat malas, egois, dan mager berjamaah!”
Selamat Idul Adha dari kami yang menyaksikan keajaiban kecil di tanah Batu.
Semoga seluruh Indonesia belajar dari satu RT yang memberi makna lebih besar dari sekadar daging kiloan.
—
#IdulAdhaGotongRoyong
#SekarPutihSolidaritasPutih
#GarengSaksiKurban
#SapiTumbangSolidaritasMenang
Gareng pamit. Masih banyak sapi yang butuh diliput. Tapi yang lebih penting…
> “Masih banyak manusia yang perlu disadarkan.” 🐄🕌🤝
















