Batu, GarengPetruk.com — Wahai warga Kota Batu dan sekitarnya! Apakah air di keran rumahmu mengalir dengan lancar atau justru lebih sering kedengeran suara angin kentut dari pipa? Jangan-jangan bukan pipanya yang bocor, tapi pengawasannya yang bocor-bocor tipis macam janji reses…
Jadi begini lho, Cak dan Ning semua. Ada kabar dari Yayasan Ujung Aspal (YUA) yang dipimpin Mas Alex Yudawan. Mereka ini bukan yayasan penggila trotoar, tapi kelompok yang peduli kalau jalan sudah mentok, rakyat jangan sampai ikut mentok pikirannya.
Pada Rabu, 28 Mei 2025, YUA ngirim surat resmi ke DPRD Kota Batu, khususnya Komisi B. Bukan ngajak reunian, tapi ngajak mikir bareng: “Hei para wakil rakyat, ini PDAM kok kayak jalan sendiri, sampeyan ke mana?”
Direksi PDAM: Pilih Pemimpin Air, Jangan Asal Guyur!
Nah, Mas Alex ini menyoroti proses pemilihan Direktur PDAM Kota Batu yang katanya… ehm… rada-rada sunyi senyap, kayak suara hati mantan yang belum move on. DPRD sebagai lembaga yang seharusnya jadi rem, kok malah kayak rem tangan yang dol?
> “Kalau nggak diawasi, nanti yang duduk jadi direktur bukan yang ahli air, tapi ahli ngatur anggaran untuk jalan-jalan,” celetuk Petruk sambil buka botol air galon sumbangan warga.
Undang-Undang Sudah Bilang: DPRD Itu Pengawas, Bukan Penonton
Dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 dan Permendagri Nomor 37 Tahun 2018, dijelaskan bahwa DPRD punya hak, tanggung jawab, dan (tentu saja) gaji, untuk ngawasi proses seleksi direksi BUMD, termasuk PDAM. Tapi nyatanya, DPRD Kota Batu belakangan ini justru sering muncul saat ada teken kontrak, bukan saat tanya kenapa rakyat belum dapat air bersih.
> “Kok rasanya, lebih gampang ketemu sales panci ketimbang anggota dewan yang bahas air,” sindir Gareng sambil nunjuk ember kosong.
YUA bahkan dengan tegas menuntut agar DPRD jangan hanya hadir saat peresmian bak air, tapi juga nongol saat ada indikasi maladministrasi dan penyalahgunaan wewenang. Jangan sampai air yang seharusnya untuk kehidupan, justru jadi komoditas penuh intrik kayak sinetron prime time.
Syarat Direktur PDAM: Bukan Cuma S1, Tapi Harus Sehat Jiwa Raga dan Kantongnya
Calon direktur PDAM itu idealnya punya:
Ijazah S1 (bukan ijazah hasil scan)
Pengalaman minimal 15 tahun (bukan 15 kali ikut seleksi)
Sertifikat Air Minum Madya (bukan cuma sertifikat pameran)
Kejujuran dan integritas (bukan integrasi kepentingan)
Nah, DPRD harus ngerti semua ini, bukan malah bingung bedain antara meteran air dan meteran parkir.
Air Itu Hak Rakyat, Bukan Barang Dagangan Elit
Masalahnya, kalau pemilihan direktur nggak transparan, nanti yang terjadi:
Warga bayar mahal tapi airnya keruh,
Laporan keuangan PDAM bening, tapi dompet rakyat kering,
Dan yang lebih parah, rakyat mulai percaya air kemasan lebih jujur ketimbang pengelolanya.
> “Kita butuh pengawasan, bukan sekadar pengesahan. Kalau air bisa mengalir tanpa hambatan, kenapa pengawasan DPRD malah seret kayak kran rusak?” ujar Petruk penuh rasa haus akan keadilan.
Ayo DPRD, Turun ke Lapangan, Bukan Cuma Turun ke Warung Kopi
YUA sudah siap bawa masalah ini ke Mendagri dan Ombudsman. Tapi sebelum sampai Jakarta, mending DPRD Kota Batu rapat serius dulu, bukan cuma rapat sambil ngitung honor.
> “Air mengalir dari hulu ke hilir, jangan sampai kecurangan mengalir dari rapat ke rekening pribadi,” tegas Gareng dengan wajah serius tapi tetap kocak.
—
Kesimpulan ala Gareng & Petruk:
Air itu sumber kehidupan. Tapi kalau pengelolaannya gelap, bisa jadi sumber kemarahan. DPRD Kota Batu, sampeyan dipilih bukan untuk diam! Segeralah bertindak, sebelum rakyatmu lebih percaya dukun ketimbang dewan!
Salam satu ember, penuh air dan harapan.
#AwasAirmuSendiri #DewanJanganNgademAja #PDAMButuhPengawasanBukanPenyogokan
Ditulis oleh: Eko Windarto (Penulis yang haus air jernih dan pemimpin bersih)
Diedit dan dibumbui dengan garam satire oleh: Gareng & Petruk
![[OPINI PUBLIK – GARENG PETRUK STYLE] “PDAM, DPRD, dan Gala-Gala di Pipa Bocor: Jangan Biarkan Air Mengalir Tanpa Pengawasan!”](https://garengpetruk.com/wp-content/uploads/2025/05/IMG-20250528-WA0013.jpg)














