Situbondo, 18 Mei 2025 — Rumah Mas Ferdi Irawan mendadak jadi lebih panas dari wajan gorengan, bukan karena kebocoran gas elpiji, tapi karena kedatangan tokoh-tokoh LSM Penjara Indonesia DPC Situbondo yang ngumpul bareng untuk acara rutin tapi isi pesannya makjleb ke jantung kekuasaan!
Acara yang digelar pada hari Ahad itu bukan sekadar kumpul-kumpul sambil ngopi, tapi lebih ke arah rapat tempur para pendekar sipil. Dipimpin langsung oleh sang Ketua DPC, Bang Muhsin Al Fajar (yang rambut gondrongnya lebih lurus dari jalan yang diharap pejabat jalani), pertemuan ini sukses bikin nyali koruptor menciut walau cuma dibaca di WhatsApp grup.
Dalam pidato yang penuh semangat dan aroma kritik tajam, Bang Muhsin tegas menyatakan:
> “Masyarakat sipil itu bukan figuran demokrasi! Kalau kekuasaan belok ke jurang, kita yang rem tangan! Kalau negara ngantuk, kita yang klaksonin!”
Gokilnya lagi, Bang Fajar juga ngasih sinyal dukungan penuh terhadap arah pembangunan di bawah komando Presiden Prabowo. Tapi, bukan berarti dukungannya itu gratis tanpa kritik. Beliau tetap ngotot: “Kita dukung, tapi kalau melenceng, siap kita colek kupingnya!”
Advokat dan Budayawan Turun Gunung!
Gak main-main, hadir pula Advokat Joko Susilo, SH, yang ngomongnya kayak pasal KUHP tapi rasanya kayak stand-up comedy yang menggigit. “Keadilan itu bukan soal toga, tapi soal nyali!” katanya, disambut tepuk tangan yang hampir bikin genteng rumah Mas Ferdi copot.
Lalu ada Asiz Chemoth, budayawan Situbondo yang kalimatnya berasa mantra. Beliau bilang, “Keberagaman itu bukan beban, tapi peluru emas kita untuk hadapi zaman.” Sontak para hadirin angguk-angguk sambil ngelirik ke kiri-kanan, nyari siapa yang kelihatan intoleran duluan.
Doa Penutup: Lantunan Syahdu, Tapi Isinya Bisa Bikin Koruptor Meriang
Acara ditutup dengan doa dari Ust. Ferdi Irawan, yang kalimatnya bikin merinding. “Ya Allah, teguhkan hati para pejuang keadilan, dan longgarkan dompet para koruptor biar mereka tobat sebelum ditangkap KPK.” Amin yang diucapkan peserta terdengar kompak, sekaligus sedikit penuh dendam manis.
LSM PENJARA: Bukan Penonton Demokrasi, Tapi Pengawal Moral Negeri
Pertemuan ini menegaskan bahwa LSM PENJARA DPC Situbondo bukan sekadar pelengkap penderita, tapi subjek aktif dalam cerita Indonesia merdeka dari mafia anggaran dan pejabat doyan amplop. Mereka hadir sebagai pengingat: bahwa kekuasaan tanpa pengawasan itu kayak nasi tanpa sambal—lembek, hambar, dan mudah basi.
Akhir kata, buat para pelaku korupsi, bersiaplah… karena LSM Penjara bukan hanya nama, tapi juga panggilan moral. Jangan kaget kalau mereka tiba-tiba datang bukan cuma bawa kamera, tapi juga bawa rakyat!
















