Jember, garengpetruk.com – Sabtu pagi yang biasanya penuh drama antrean pasien, kali ini RSUD dr. Soebandi Jember berubah jadi panggung aksi nyata: bakti sosial pelayanan KB metode operasi pria (MOP) dan wanita (MOW). Bekerja sama dengan DP3AKB dan BKKBN Jawa Timur, acara ini digelar demi masa depan yang lebih tertata dan keluarga yang tak melulu dihantui harga popok dan susu formula.
Acara ini juga jadi pemanasan menuju tiga agenda besar: pemecahan rekor MURI untuk pelayanan KB MOP & MOW, peluncuran program KB Perusahaan, dan peringatan ulang tahun Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Wah, kalau biasanya ulang tahun dirayakan dengan potong tumpeng, kali ini dirayakan dengan potong saluran reproduksi! Sakti!
Dokternya Blak-blakan: “Yang Daftar 400-an, Tapi yang Ikut 218 Perempuan dan… cuma 5 Lelaki!”
Plt. Direktur RSUD dr. Soebandi, dr. I Nyoman Semita, Sp., menjelaskan, sebenarnya yang daftar banyak banget. Tapi karena keterbatasan fasilitas dan tenaga medis, hanya 218 perempuan yang bisa menjalani MOW dan 5 pria yang berani MOP.
“Yang pria itu langka, Mas. Mungkin banyak yang mendadak ‘ada urusan mendesak’ pas dengar kata ‘operasi’. Padahal ini aman dan bisa dibalik kalau suatu saat ingin punya anak lagi,” ujar dr. Nyoman sambil menahan senyum penuh makna.
Efek KB Konvensional? Berat Badan Naik, Emosi Labil, dan Suami Mendadak Amnesia Jadwal Suntik
Menurut dr. Nyoman, metode operasi ini justru lebih aman dan efektif jangka panjang dibandingkan pil, suntik, atau spiral yang sering bikin keluhan dari keputihan sampai pinggang nyut-nyutan.

“Ini bukan potong habis kok, cuma diikat. Dan bisa dibuka kembali. Jadi bukan akhir segalanya, cuma jeda sementara buat ngatur napas,” jelasnya.
Lebih dari itu, operasi KB ini dinilai jauh lebih hemat. Bayangkan, sekali tindakan bisa bebas dari belanja alat kontrasepsi setiap bulan. Irit biaya, irit drama rumah tangga.
Sindiran Gareng: “KB Itu Bukan Buat Biar Miskin, Tapi Biar Gak Tambah Sengsara!”
Gareng berkomentar, anak memang rezeki, tapi kalau dapurnya masih mengepul pakai kayu bakar, piring sering kosong, dan baju anak turun-temurun dari tetangga, mungkin saatnya berpikir bijak.
“Anak banyak itu keren, asal nggak bikin hidup jadi kayak sinetron tragedi. Mending rem dulu, ben napas rumah tangga iso panjang,” kata Gareng sambil nyruput kopi.
Apalagi, program ini juga bagian dari upaya melawan stunting. Anak yang sehat butuh gizi, bukan cuma kasih sayang. Dan semua itu butuh perencanaan, bukan sekadar keberanian.
RS Soebandi Siapkan Segalanya, Termasuk Ventilator Kalau Ada yang Mendadak Panik
Dokter Nyoman memastikan semua prosedur berjalan sesuai standar medis. Bahkan disiapkan ruang gawat darurat dan ventilator, siapa tahu ada yang syok berat pas mau operasi. Wah, ini serius tapi tetap manusiawi!
Penutup Gareng: “Daripada yang dipotong anggaran makan, mending saluran reproduksi. KB itu waras, bukan was-was!”
Jadi, wahai rakyat Jember dan sekitarnya, mari sadar KB bukan karena takut rezeki, tapi karena ingin masa depan yang lebih pasti. Karena keluarga bahagia itu bukan yang paling ramai, tapi yang paling siap menghadapi hari esok.
















