Duh, rek…
Hidup di zaman scrolling cepat dan mikir lambat begini tuh kadang bikin kepala Gareng pengin nyungsep ke pot bunga. Baru juga satu dua oknum berulah di Bali, tiba-tiba satu etnis Sumba di-semprot ramai-ramai kayak maling ayam! Lah iki logika apa? Logika gorengan basi?
Bayangno, sampeyan lagi makan bakso, tiba-tiba ada yang bilang, “Baksonya enak, tapi karena penjualnya dari Sumba, aku nggak mau beli!” Lah, hubungane opo? Sing ndeso sopo iki?
Satu Salah, Semua Masuk Penjara Moral?
Wong Sumba itu datang ke Bali bukan buat liburan pakai kacamata hitam sama kelapa muda. Mereka kerja, banting tulang, nyangkul nasib, nambal dapur. Tukang bangunan, sopir proyek, pegawai hotel, sampe penjaga vila. Mereka bukan pelancong — mereka pejuang ekonomi!
Tapi begitu ada keributan, langsung yang muncul di timeline kita: “Hati-hati sama orang Sumba!”
Lah, kalau satu orang Jawa maling motor, apakah kita langsung bilang: “Wah, orang Jawa semua tukang nyolong!”?
Yo ora tho!?
Generalisasi Itu Penyakit, Bukan Pendapat
Yulius, Pimpinan Redaksi GaleriSumba.com, wis speak up dengan lantang. Katanya, ini bukan sekadar prasangka, tapi sudah sampai level diskriminasi yang nggetirke ati.
Dan Gareng setuju! Wong salah satu prinsip negara kita: Bhinneka Tunggal Ika, bukan Bhinneka Tunggal Stigma.
Coba bayangkan kalau semua etnis diadili karena satu kasus:
Orang Betawi dilarang naik angkot karena pernah ada sopir ngebut?
Orang Madura nggak boleh bawa celurit buat motong rumput?
Orang Sunda dilarang ngasih sambal karena katanya terlalu manis?
Yo rusak, bos! Bangsa ini jadi kayak sinetron murahan: gampang tersulut, tapi malas mikir.
Kita Butuh Polisi Hati, Bukan Polisi Jempol
Yulius bener: pelaku kerusuhan harus ditindak tegas. Tapi menuduh semua warga Sumba itu rusuh, itu bukan hukum. Itu hukum rimba Twitter!
Kita ini hidup di negara hukum, bukan hutan opini.
Gareng usul:
1. Cek fakta dulu sebelum ngegas.
2. Bedakan antara manusia dan oknum.
3. Kalau emosi, ambil napas — atau teh manis dua gelas.
4. Kalau nggak ngerti, tanya. Jangan sok tahu sambil ngetik sambil ngunyah cilok.

Kesimpulan ala Wayang Koplo
Kita ini saudara sebangsa, bukan kontestan Survivor Indonesia yang saling tendang. Kalau satu kesalahan kecil membuat kita melabeli seluruh suku, ya kita lagi bikin bom waktu untuk perpecahan bangsa.
Seperti kata pepatah Jawa:
Sepikul salah siji, sak gotong kabeh nampa tuduhan,
Yo ora adil, rek.
—
Bali, 15 Mei 2025
Ditulis sambil ngopi di teras kontrakan, ditemani suara ayam tetangga dan grup WA yang lagi rame nuduh tanpa data.
















