(Adegan: Pagi hari di warung kopi sederhana. Petruk duduk di bangku kayu, ditemani secangkir kopi hitam dan sebatang rokok kretek yang belum dinyalakan. Ia berbicara seperti sedang berdialog dengan sosok tak kasat mata.)
Petruk:
(Gumam pelan)
Gusti…
Boleh ya, hari ini aku ngajak-Mu ngopi?
Bukan karena aku suci.
Bukan karena aku khusyuk.
Tapi karena aku rindu.
Rindu ngobrol,
Bukan sekadar minta.
Rindu duduk bareng,
Bukan cuma sujud dalam takut.
(Ia meniup kopi pelan, menyeruput sedikit. Pandangannya kosong menatap jalanan.)
Aku lihat manusia makin pandai berdoa,
Tapi makin enggan mendengar.
Mereka fasih menyebut nama-Mu,
Tapi kaku menyapa sesamanya.
Aku heran…
Kenapa orang bisa salat lima waktu,
Tapi tak pernah sempat menyapa tukang sapu?
(Petruk tersenyum miris.)
Tuhan, aku tahu Engkau tidak tinggal di langit mewah,
Engkau ada di hati yang sabar,
Di senyum ibu penjual sayur,
Di peluh bapak tukang becak.
Tapi manusia malah sibuk bertengkar,
Memaksa-Mu berpihak,
Menyuruh-Mu tinggal di kubu politik.
Astaghfirullah…
(Ia menoleh ke kursi kosong di seberangnya, seolah Tuhan sedang duduk di sana.)
Gusti, terima kasih sudah mau duduk bersamaku.
Meski aku tak punya doa panjang,
Tapi semoga aroma kopi ini bisa naik ke langit,
Sebagai pujian dari hamba yang tak tahu caranya menjadi sempurna.
(Senyum kecil di bibir Petruk, matanya berkaca-kaca tapi tetap nakal.)
Maaf ya Tuhan…
Kadang aku lebih sering menyalahkan-Mu,
Padahal lupa mencuci gelas hatiku sendiri.
—
Pesan Moral ala Petruk:
“Kadang yang paling jujur bukan doa panjang,
Tapi secangkir kopi dan hati yang terbuka.”
















