Jember, 10 Mei 2025 – Pagi-pagi buta, sebelum ayam sempat bangun untuk kukuruyuk, para petani, manajer, dan pejabat perkebunan sudah gegap gempita di Kebun Mumbul. Bukan karena panen durian, bukan pula rebutan diskon di marketplace, tapi karena satu kata keramat: Selamatan Tebang Tebu! Acara ini nggak kalah sakral dari akad nikah, cuma bedanya nggak ada resepsi pakai tenda biru dan penyanyi dangdut.
Dipimpin langsung oleh General Manager Kebun Mumbul yang lagi ultah ke-43—Broto Widyo Lukito—acara dibuka dengan tebang tebu perdana. Sabetan parang pertama, katanya, lebih tajam dari komentar netizen kalau subsidi pupuk telat cair. Tapi tenang, Broto nggak tebang orang, cuma tebang tebu, disaksikan jajaran manajemen dan para asisten yang wajahnya serius kayak pengawas ujian.

Usai tebang-tebangan, acara berlanjut ke tasyakuran. Jam delapan lewat lima belas pagi, doa dipanjatkan, semoga panen tahun ini lancar dan manis, nggak getir kayak utang cicilan. Tapi yang paling mengharukan adalah kejutan ultah buat Pak Broto—ulang tahun yang katanya jatuh di hari Minggu, tapi dirayakan lebih awal. “Biar kayak panen, dipercepat targetnya,” ujar salah satu karyawan sambil nyengir.
Nah, buat yang belum tahu, ini bukan sembarang tebang-tebuan. Ini bagian dari misi besar Holding Perkebunan Nusantara dan anak perusahaannya, PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), yang lagi dikejar-kejar target swasembada gula sebelum rakyat Indonesia keburu manis semua karena konsumsi tinggi tapi produksi loyo.
Target tahun ini? 13 juta ton tebu. Iya, betul, tiga belas juta! Itu kalau dijadikan es tebu, bisa buat satu kampung mandi gula seminggu. Kebun Mumbul sendiri ditargetin nyumbang 401.000 ton. Naik kelas dari tahun lalu yang cuma nyentuh 72 ton per hektare, sekarang ditarget 83,98 ton. Semangatnya kayak anak kos tanggal tua yang nemu mie instan di balik lemari.
“Ini bukan target sembarangan,” kata Broto dengan gaya setenang petani nunggu hujan. “Tapi kalau semua kompak, pasti bisa. Kita kerja keras, doa keras, dan jangan lupa, tebu harus manis, bukan pahit kayak janji-janji mantan,” tambahnya, disambut tawa para hadirin.
Yang menarik, hasil panen bakal didistribusikan ke dua pabrik gula besar: PG Semboro Jember dan PG Glenmore Banyuwangi. 30% ke Semboro, 70% ke Glenmore. Sisanya? Ya disesuaikan, tergantung jalur takdir dan manajemen pusat.

Tapi tunggu, ini bukan cuma soal tebu dan ton-tonan. Ada sisi humanis juga: santunan anak yatim turut dibagikan. Karena, katanya, panen bukan cuma buat isi gudang, tapi juga isi hati. Solidaritas sosial tetap dijaga—karena kalau cuma fokus panen tanpa peduli lingkungan, itu namanya bukan petani, tapi kapitalis.
Hadir pula para tokoh daerah: dari Muspika Tempurejo sampai General Manager Kebun Kopi Sanenrejo. Komplet! Tinggal tukang es tebu yang belum diundang, padahal dia yang paling ngerti rasa.
Akhir kata, selamatan ini jadi lebih dari sekadar seremoni. Ini simbol. Simbol bahwa bangsa ini masih punya cita-cita manis, walau kadang realitas pahit tak bisa dielak. Tapi seperti tebu yang mesti digiling dulu sebelum jadi gula, perjuangan pun begitu: mesti diremas biar keluar manisnya.
Salam dari Gareng & Petruk: “Mari kita tebang kebodohan, tanam kemandirian, dan panen kemakmuran!”
Mau teh manis? Panen dulu, Bung.















