BANYUWANGI —
Walah, sobat rakyat jelata dan kaum rebahan nasional, hari Sabtu (3/5/25) kemarin, Hotel Pasifik Harvest di Licin, Banyuwangi, mendadak berubah bukan jadi tempat resepsi mantu, tapi jadi ladang pembasuhan semangat kebangsaan. Lho kok bisa? Soalnya GM FKPPI Banyuwangi lagi rapat kerja!

Jangan bayangin rapatnya cuma ngopi-ngopi sambil cek WA grup, lho ya. Ini serius. Mereka ini anak-anak purnawirawan TNI-Polri yang udah kenyang mendengar kisah “Perang Itu Pahit, Nak” sejak kecil, sekarang malah ngumpul bareng buat mikir: gimana caranya negeri ini nggak cuma merdeka secara fisik, tapi juga merdeka dari malas berpikir dan mudah dibohongi.

KH Ir. Achmad Wahyudi, SH, MH, Ketua GM FKPPI Banyuwangi (gelarnya aja udah panjang kayak KRL), tampil gagah bukan karena jas-nya licin, tapi karena ucapannya berisi. Beliau bilang, semangat bela negara itu bukan hanya milik masa lalu. Nah lho! Berarti kita yang hidup sekarang kudu melek, jangan malah bela harga diri pas di TikTok tapi lupa bela negara di dunia nyata.

“Kami di sini bukan mau nostalgia zaman ABRI masih nyanyi di TVRI. Kami mau bangun generasi patriotik. Bukan generasi yang baper kalau kuota habis,” katanya sambil disambut anggukan serius para hadirin yang diam-diam ngintip notifikasi Instagram.
Bupati Ipuk Fiestiandani juga hadir, dan dengan penuh semangat ibu-ibu pemberdaya, beliau ngajak FKPPI buat kolaborasi. Katanya, “Banyuwangi ini plural, lho. Dari Gandrung sampai Gen Z semua ada.” Jadi, GM FKPPI diharapkan bukan hanya jago mars-marsan, tapi juga nyemplung langsung ke masyarakat: bantu pendidikan, ekonomi, sampai urusan karakter.

Petruk nyelutuk:
“Wah, nek kabeh ormas iso begini, negara ora perlu takut hoaks, cukup takut sama netizen minta giveaway.”
Acara rapat kerja ini juga dihadiri jajaran pusat GM FKPPI dari Jakarta dan Jawa Timur. Mereka datang bukan buat selfie, tapi buat nyuntik semangat dan arah baru. Pesannya satu: GM FKPPI itu bukan organisasi elit sok nasionalis. Tapi rumah besar buat siapa saja yang hatinya masih merah putih, bukan cuma kaos-nya doang.

Acara juga diisi diskusi strategis. Bukan debat kusir model “grup WA RT” ya. Tapi obrolan serius soal program jangka pendek sampai jangka panjang. Karena perjuangan itu, kata mereka, bukan sprint tapi maraton.
Dan tentu saja, semua itu diakhiri bukan dengan lagu dangdut, tapi dengan semangat: NKRI Harga Mati, Bela Negara Gaya Kami!

—
Gareng bilang:
Wahai rakyat waras dan kaum rebahan harapan bangsa, kalau anak-anak purnawirawan aja udah turun gunung buat bela negeri, masa kamu masih sibuk debat siapa paling pro-Pancasila di kolom komentar?

Petruk menimpali:
Lur, ayo kita dukung yang benar-benar kerja, bukan cuma yang teriak-teriak merdeka tapi nyebar berita bohong. Mari kita bela negara dengan logika, cinta, dan tindakan nyata.
















