Ramadan, bulan penuh berkah! Bulan di mana orang berlomba-lomba mencari pahala, menahan lapar, haus, dan… menahan diri dari hal-hal haram. Tapi, pertanyaan besar muncul: apakah para koruptor juga ikut berpuasa? Lebih spesifik lagi, apakah kantong mereka juga ikut berpuasa? Atau justru makin gendut seperti perut setelah berbuka dengan lima porsi nasi Padang?
Koruptor dan Sahur: Siap-Siap Makan Lagi
Konon, sahur itu sunnah. Tapi bagi para koruptor, makan sebelum waktu subuh adalah keharusan. Bukan sahur pakai nasi dan lauk biasa, tapi dengan menu saldo rekening baru hasil proyek fiktif yang sukses cair tengah malam. Begitu azan subuh berkumandang, mereka pun menahan lapar, tapi kantong tetap bekerja 24 jam tanpa rasa lelah. Berpuasa di mulut, tapi dompet tetap rakus!
Menahan Diri? Kecuali dari Duit!
Orang biasa berpuasa menahan diri dari hal-hal yang membatalkan pahala. Tapi bagi para koruptor, tantangannya berbeda. Mereka bukan menahan diri dari uang haram, melainkan menahan diri agar tidak ketahuan. Saat rakyat sibuk menghitung sisa uang untuk beli takjil, mereka sibuk menghitung keuntungan dari anggaran bansos yang ajaibnya selalu ‘bocor’.
Puasa sejatinya melatih kejujuran. Tapi, apakah koruptor mengenal kata itu? Mungkin mereka puasa bicara soal keadilan, puasa mendengar keluhan rakyat, dan yang pasti puasa ketahuan mencuri.
Buka Puasa: Rezeki dari Hasil Korupsi?
Ketika azan maghrib berkumandang, umat Islam berbuka dengan kurma dan air putih. Para koruptor? Mereka berbuka dengan tender baru, proyek tambahan, dan bonus ‘persetujuan anggaran’.
“Alhamdulillah, buka puasa hari ini penuh berkah,” kata rakyat kecil yang hanya bisa membeli gorengan.
“Alhamdulillah, saldo bertambah!” kata mereka yang puasanya hanya sebatas formalitas.
Lalu, apakah kantong mereka juga ikut berpuasa? Tentu saja tidak! Kantong mereka justru makin makmur, lebih subur dari ladang sawit ilegal.
Kesimpulan: Puasa atau Cuci Dosa Sementara?
Ramadan datang setahun sekali, tapi korupsi bisa setiap hari. Banyak yang mengira puasa adalah kesempatan membersihkan diri, tapi bagi sebagian orang, ini hanya kesempatan membersihkan jejak. Setelah lebaran, semuanya kembali seperti biasa—lapar nafsu, haus kekuasaan, dan lapar uang negara.
Jadi, wahai rakyat yang berpuasa dengan jujur, mari kita berdoa: semoga di bulan suci ini, kantong para koruptor ikut berpuasa—setidaknya sekali seumur hidup! Aamiin!
















