Pojok Hukum – Gareng Petruk
Ruang persidangan sering digambarkan sebagai tempat sakral di mana kebenaran dan keadilan diungkap. Namun, siapa sangka bahwa ruang ini juga bisa menjadi panggung drama yang menyerupai film—baik itu drama percintaan romantis, komedi, atau bahkan horor?
Seorang hakim dengan nurani dan integritas tinggi dapat mengubah jalannya sidang menjadi seperti adegan dalam film romansa yang penuh makna. Keputusannya memancarkan rasa keadilan yang menyentuh hati, membuat masyarakat percaya bahwa hukum masih menjadi pedoman utama dalam kehidupan. Dalam situasi ini, hukum tidak hanya ditegakkan secara normatif, tetapi juga membawa kehangatan manusiawi.
Namun, kisahnya berubah drastis ketika hakim yang memimpin justru kehilangan rasa adilnya. Ketidakmampuan menegakkan hukum, apalagi jika disertai kepentingan tertentu, menjadikan ruang persidangan berubah menjadi film horor komedi. Lucu, karena proses yang seharusnya serius malah menjadi penuh drama yang memancing gelak tawa akibat kelucuan yang tidak pada tempatnya. Menakutkan, karena nasib seseorang ditentukan oleh tangan yang mungkin sudah kehilangan kompas moralnya.

Dr. H. Suparno, SH, MH, MM, Direktur Bahu Prabowo dan ahli hukum dari Maps Lawyer Indonesia sekaligus dosen senior di Universitas Borobudur, menanggapi fenomena ini dengan tegas. “Hakim adalah simbol dari keadilan itu sendiri. Ketika seorang hakim kehilangan integritas, maka bukan hanya hukum yang dilecehkan, tetapi juga harapan rakyat terhadap sistem peradilan. Pengadilan seharusnya menjadi tempat kebenaran, bukan panggung drama penuh sandiwara yang menciderai nurani masyarakat,” ujar beliau.
Lebih lanjut, Dr. Suparno menyoroti pentingnya reformasi dalam sistem peradilan untuk memastikan bahwa integritas tetap menjadi fondasi utama. “Kita membutuhkan sistem yang tidak hanya melindungi hakim yang berintegritas, tetapi juga berani menindak tegas mereka yang menyalahgunakan kewenangan. Hukum harus berdiri di atas prinsip keadilan, bukan kompromi terhadap kepentingan tertentu,” tambahnya.
Kasus-kasus tertentu, seperti persidangan yang penuh dengan kejanggalan, sering kali menyeret masyarakat ke dalam pusaran kekecewaan. Publik bertanya-tanya, “Apakah ini pengadilan untuk mencari keadilan, atau hanya sandiwara untuk menutupi kepentingan tertentu?”

Namun, Nurita H,SH,CCA, CIISA Seorang Politisi dan CEO dari Firma Hukum ternama di Jakarta, tetap optimis. “Masih ada banyak hakim yang bekerja dengan hati nurani. Mereka inilah yang menjadi harapan besar bagi wajah hukum kita ke depan. Masyarakat harus mendukung mereka, mengawal sistem, dan tidak pernah berhenti memperjuangkan transparansi serta akuntabilitas dalam peradilan,” tutupnya.
Sebagai masyarakat, kita punya peran besar dalam mendorong reformasi hukum. Jangan pernah lelah untuk mengawal proses peradilan dan memastikan bahwa hukum ditegakkan sesuai dengan prinsip keadilan. Sebab, pada akhirnya, ruang sidang bukanlah panggung hiburan, melainkan tempat di mana kehidupan seseorang dipertaruhkan.
Jika kita ingin menulis skenario masa depan peradilan Indonesia, mari pastikan kisahnya lebih menyerupai drama romantis yang menyejukkan hati, daripada horor komedi yang membuat ngeri. Keadilan yang benar, adalah keadilan yang memberi harapan, bukan ketakutan.
(Tim Redaksi Gareng Petruk)
















