Oleh: Gareng & Petruk
Walah dalah, dunia makin terbalik! Kalau dulu ulama dikenal sebagai panutan, sekarang ada juga yang malah bikin jantungan. Gus Miftah, sampeyan ini katanya utusan presiden, tapi kok lakumu kaya preman pasar? Nggak heran, Arfian Ketua Umum Pasukan 08 sampe keluar suara lantang, “Gus Miftah, sampeyan ini pejabat atau penjilat? Rakyat kecil cari makan kok dihina goblok?”

Gareng: “Petruk, ini loh contoh ulama zaman now. Jabatan baru, kelakuan juga baru. Nggak cuma khutbah, sekarang juga mahir nyablak!”
Petruk: “Iya, Gareng. Coba sampeyan lihat. Bukannya ngemong rakyat kecil, eh malah jadi macan podium. Wong cilik disalahkan, padahal cuma jual es teh. Apa salahnya rakyat kecil jualan, toh mereka nggak jualan dusta kok.”
Gareng: “Betul, Petruk. Bukannya memberi teladan, ini malah memberi tekanan. Lha sampeyan pejabat, Gus. Ingat, jabatan itu ujian, bukan panggung buat merendahkan.”
Petruk: “Tapi ya begitulah, Gareng. Allah memang menguji hamba-Nya dengan tiga hal: harta, wanita, dan jabatan. Nah, Gus Miftah ini kayaknya kepleset di yang ketiga. Derajat boleh tinggi, tapi kalau adabnya nggak cukup, ya cuma jadi pajangan.”
Gareng: “Petruk, mungkin kita harus kasih Gus Miftah ini buku ‘Adab dan Etika Bagi Pejabat 101’. Syukur-syukur bisa jadi bahan tausiah, bukan cuma bahan hardikan.”
Arfian benar, Gus. Sebagai pejabat negara dan utusan presiden, sampeyan punya tanggung jawab besar untuk menjadi panutan, bukan malah bikin rakyat kecil trauma. Ngomong goblok ke pedagang kecil? Itu sama aja sampeyan goblokin orang-orang yang berjuang ngelawan kerasnya hidup. Kalau ulama seperti sampeyan aja nggak bisa ngemong, lantas rakyat mau nyonto siapa?

Sebagai penutup, kami cuma bisa bilang, “Gus, jabatan sampeyan itu amanah, bukan alat buat jumawa. Kalau sampeyan nggak bisa ngemong, ya mundur wae. Daripada jadi tontonan rakyat, lebih baik jadi teladan rakyat.”
Sampai jumpa di episode “Ulama Panutan atau Tokoh Sibuk Hardikan?” minggu depan. Salam satir dari Gareng & Petruk.















