Batu, 13 Juni 2025 —
Di zaman digital ini, di mana informasi lebih cepat tersebar daripada gorengan di acara tahlilan, peran jurnalis dan penulis makin penting. Sayangnya, pentingnya mereka kadang cuma sebatas kata sambutan di seminar—dipuji-puji lalu dilupakan begitu listrik mati.
Wartawan dan penulis mestinya jadi kompas moral dan penjaga akal sehat bangsa. Tapi apa lacur, sekarang malah sering dicap tukang provokasi atau malah kena UU yang bunyinya lebih panjang dari skripsi anak kuliahan, tapi lebih tajam dari gunjingan tetangga.
“Ndak usah kritik, nanti dicap meresahkan,” kata satu narasumber yang minta namanya disamarkan jadi “Si Udin yang Tidak Salah Apa-Apa”.
Padahal, kritik itu seperti sambel—kadang pedas, tapi bikin nagih dan justru menggugah selera demokrasi. Tapi hari-hari ini, sambel kritik itu sering dianggap racun. Dihindari, bahkan dikriminalisasi.
—
Semua Bisa Jadi Penulis, Tapi Tak Semua Paham Tata Bahasa dan Tata Etika
Di era digital ini, siapa pun bisa jadi penulis. Cukup punya kuota, jempol, dan sedikit niat buruk, sudah bisa bikin berita clickbait dengan judul: “Ternyata Ini yang Terjadi Saat Politikus Tidur Saat Rapat!!!” Padahal pas dibuka, isinya cuma: “Ya tidur beneran.”
Tapi jurnalis sejati bukan cuma penjual sensasi. Mereka seperti petani literasi—menanam fakta, memanen kejujuran. Sayangnya, lahan itu sekarang banyak dibajak oleh algoritma dan diburu oleh klik.
—
Petruk Bilang: Menulis Itu Amal, Bukan Ajang Balap Viewer
Jurnalisme sejati itu seperti ngaji—ada adabnya, ada ilmunya, dan harus bertanggung jawab. Tapi sekarang, yang banyak justru jurnalisme gaya sinetron: banyak dramanya, minim datanya.
Di luar negeri, wartawan yang mengungkap skandal bisa dapat Pulitzer. Di sini? Bisa dapat surat panggilan. Atau minimal, ban motornya kempes misterius. Kadang juga dapat “surat cinta” dari oknum yang merasa tersinggung padahal tak disebut namanya.
—
Negara Maju Bilang: “Kritik Itu Vitamin.” Kita Bilang: “Kritik Itu… Hati-hati Mas.”
Lihat saja di negara-negara maju, penulis dan jurnalis dihargai layaknya penjaga peradaban. Di sini, kadang dianggap cuma tukang nyinyir online. Padahal kalau ditelusuri, merekalah penyambung lidah rakyat, bukan penyambung kontrak endorse.
Masalahnya bukan cuma kebebasan. Tapi juga pendidikan. Jurnalis luar negeri dibekali pendidikan, mentor, dan perlindungan hukum. Kita? Kadang cuma dibekali doa dan… “semoga selamat ya, Mas.”
—
Pendidikan Literasi: Jangan Cuma Bisa Baca, Tapi Juga Harus Bisa Nalar
Petruk punya usul: selain pendidikan seks dan PPKn, literasi digital juga harus jadi pelajaran wajib. Karena hari ini, banyak yang bisa baca tapi tak bisa bedakan mana berita, mana fitnah rasa fakta. Jangan sampai kita rajin share tapi malas mikir.
Masyarakat pun harus dikasih asupan nutrisi informasi, bukan cuma gorengan opini. Jangan mentang-mentang internet gratis, semua berita ditelan bulat-bulat macam cimol.
—
Kode Etik: Jangan Cuma Jadi Poster di Dinding Kantor Redaksi
Kalau jurnalis itu punya senjata, maka etika adalah sarungnya. Sayangnya, sekarang sarung itu kadang copot. Wartawan yang idealis bisa kalah suara sama konten kreator yang lebih viral.
Padahal, idealisme itu seperti nasi bungkus: bisa sederhana, tapi menyelamatkan jiwa.
—
Kesimpulan ala Petruk: Tulis dengan Nurani, Baca dengan Akal, Kritik dengan Cinta
Jurnalis dan penulis harus berani. Tapi juga harus waras. Berani menyampaikan yang pahit, tapi dengan cara yang membuat orang ingin minum sampai habis.
Negara jangan alergi kritik. Karena negara tanpa kritik, seperti sop buntut tanpa buntut—hambar, tak utuh, dan tidak jujur pada nama.
Dan buat para pembaca: jangan cuma jadi penonton. Kritis itu bukan dosa. Baca itu bukan cuma hobi, tapi perlawanan terhadap ketidaktahuan.
Karena di zaman digital, menulis adalah ibadah, membaca adalah jihad, dan diam bisa jadi musibah.
—
Gareng Petruk ngendika:
> “Nek tulisanmu ora digugat, berarti ora ngagetno. Nek tulisanmu digugat, berarti wis kena nalar. Tapi nek tulisanmu dibredel… yo berarti wes nggolet kebenaran. Tapi tetep, ojo ngarang mung nggo viral. Ngertio, Le?”
Eko Windarto & Petruk, dari Batu yang tak pernah membatu.
📌 Catatan kaki: Tidak ada sensor yang terluka dalam penulisan berita ini. Yang tersinggung? Silakan introspeksi, jangan langsung lapor polisi.
















Keren