Jakarta, Harian Nasional Gareng Petruk – MRT Jakarta dan Agence Française De Développement (AFD) sepakat untuk bekerja sama mengkaji studi kelayakan Kawasan Transit-Oriented Development (TOD) untuk Fase 1 MRT Koridor Utara-Selatan. Dalam bahasa keren, ini tentang bikin Jakarta makin cakep di sekitar stasiun MRT, biar nggak cuma sekadar tempat nunggu kereta, tapi juga jadi oase ruang publik. Namun, kalau dipikir-pikir, apa ini cuma soal trotoar lebih lebar dan taman yang ditanami pohon-pohon ala Paris, atau ada cerita lain di balik angka-angka euro itu?
Kesepakatan ini diteken langsung oleh jajaran penting MRT Jakarta dan AFD pada Rabu (2/10/2024). Ada Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta, Farchad Husein Mahfud, Country Director AFD Indonesia, Yann Martres, dan Direktur Utama PT MITJ, Fuad Fachroeddin, yang menjadi bintang utama di acara ini. Tak ketinggalan, turut hadir juga Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, dan Duta Besar Prancis, Fabien Penone, yang tampak sumringah sambil sesekali melempar senyum diplomatis.
Dari MRT Sampai Taman Kota, Jakarta Bisa Jadi Paris di Asia?
Dalam sambutannya, Tuhiyat memulai pidato dengan bangga—layaknya bapak yang senang lihat anaknya berprestasi—mengklaim bahwa MRT Jakarta telah menjadi katalis perubahan gaya hidup warga ibu kota sejak beroperasi pada 2019. Nah, MRT memang sukses membawa kita dari titik A ke titik B tanpa harus kena macet, tapi apa benar perubahan gaya hidup ini bisa merambah sampai ke sekitar stasiun MRT? Atau cuma trotoar licin yang jadi spot Instagramable?
“Kami berkomitmen agar kawasan sekitar stasiun MRT nggak cuma jadi tempat turun-naik kereta, tapi juga nyaman untuk jalan kaki, menikmati ruang hijau, dan pastinya bikin warga betah. Sebab, kota modern itu bukan cuma soal gedung tinggi, tapi juga kenyamanan dan aksesibilitasnya,” ujar Tuhiyat sambil sesekali melirik ke arah Fabien, seolah mau bilang, “Lihat nih, Jakarta juga bisa sekeren Paris!”
Tapi jangan salah, Fabien Penone pun nggak kalah. Duta Besar Prancis ini mengungkapkan kekagumannya pada Jakarta yang, menurutnya, sedang gencar membangun infrastruktur modern dan pelayanan kelas dunia. “Dengan kemitraan ini, kedua negara bisa saling tukar pengalaman soal gimana menghadapi tantangan urban yang makin padat,” kata Fabien. Pertanyaannya, pengalaman macam apa yang akan ditukar? Apakah kita bakal dapat tips bikin croissant enak di pinggir stasiun MRT?

Kajian Seharga €225.000, Jakarta Mau Dapet Apa Sih?
Nah, ini dia yang bikin dahi mengernyit. Nilai kerja sama yang disepakati mencapai €225.000 (kira-kira Rp3,7 miliar). Cukup buat bikin kajian, tapi apa cukup buat bikin warga lebih disiplin soal buang sampah dan nggak parkir sembarangan di sekitar stasiun? Kajian ini meliputi area TOD di Dukuh Atas, Blok M – Sisingamangaraja, dan Lebak Bulus. Poin pentingnya: aspek dampak lingkungan dan sosial juga bakal dikaji.
Jadi, sepertinya proyek ini bukan sekadar soal lahan parkir atau taman, tapi lebih mendalam, termasuk soal dampak lingkungan. Good news, tapi pertanyaannya: apakah nanti hasil kajian ini benar-benar diimplementasikan, atau cuma jadi wacana di lembar laporan tebal yang berdebu di rak?
Gareng Petruk Punya Pendapat
Kalau kita bicara soal TOD dan kemitraan internasional, ya, harapan tentu tinggi. Tapi, harapan tanpa eksekusi, itu namanya ngayal! Jadi, semoga saja MRT Jakarta dan AFD nggak cuma jago tanda tangan MoU, tapi juga jago mengeksekusi kajian-kajian ini. Jangan sampai malah bikin Jakarta tambah macet gara-gara pembangunan yang nggak beres-beres.
Kalau benar, TOD bisa bikin Jakarta lebih nyaman, ya bagus. Tapi buat sekarang, ayo kita jaga harapan tetap realistis. Mari lihat apakah Kawasan TOD ini benar bisa bikin hidup warga lebih baik atau malah jadi lahan investasi yang dikuasai segelintir pengusaha.
Ayo MRT Jakarta, jangan cuma bikin stasiun keren! Bikin juga kota yang nyaman buat semua orang—dari pejalan kaki, pesepeda, sampai warga yang pengen sekadar duduk di taman tanpa diusir petugas. Kalau bisa, Jakarta bakal jadi Paris-nya Asia, tapi tanpa drama!
Harian Nasional Gareng Petruk – Di mana janji perubahan tinggal di trotoar, kami hadir dengan kritik cerdas dan sindiran pedas.

















Semoga Sukses