Pasangan calon nomor 2 untuk Pilkada Kabupaten Bombana mengusung 25 program yang terdengar menarik di permukaan. Namun, setelah diteliti lebih jauh, banyak program ini sulit terealisasi karena tidak memiliki dasar yang jelas, baik dari sisi pendanaan, regulasi, maupun mekanisme pelaksanaan. Mari kita bahas beberapa program yang dinilai tidak masuk akal dan berpotensi hanya menjadi janji kosong.
1. BPJS Gratis untuk Seluruh Masyarakat Bombana
- Analisis:
Saat ini, BPJS menggunakan skema pembiayaan nasional yang melibatkan iuran dari peserta dan subsidi pemerintah pusat. Membuat program BPJS gratis untuk seluruh masyarakat Bombana berarti Bombana harus menanggung biaya premi seluruh penduduk. Dengan jumlah penduduk sekitar 150.000 orang, ini membutuhkan anggaran miliaran rupiah setiap tahun. Dari mana dana ini akan diambil? - Realita:
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bombana sangat terbatas, sekitar dibawah Rp100 miliar per tahun, sementara APBD pun sebagian besar terserap untuk belanja rutin seperti gaji ASN dan operasional.
2. Modal Usaha Komunitas Mandiri Rp50 Juta per Kelompok
- Analisis:
Tanpa mekanisme yang jelas, program ini hanya menjadi janji bombastis. Dari mana sumber pendanaannya? Bagaimana cara verifikasi dan penyalurannya agar tidak disalahgunakan? - Realita:
Jika ada 1.000 kelompok yang menerima modal, maka dana yang dibutuhkan mencapai Rp50 miliar. Dengan PAD Bombana yang kecil, dari mana anggaran sebesar ini akan diambil tanpa mengorbankan program penting lainnya?
3. Dukungan Sertifikat Tanah untuk Penghasilan Rendah
- Analisis:
Janji ini tidak menjelaskan bentuk dukungan yang dimaksud. Apakah berupa sertifikat gratis, subsidi biaya, atau hanya bantuan administratif? Jika program ini melibatkan sertifikat gratis, maka biayanya besar, karena melibatkan pengukuran tanah, proses legalisasi, dan administrasi. - Realita:
Tanpa penjelasan rinci, ini tampak seperti janji ambigu yang sulit diukur dampaknya.
4. Beasiswa dan Jaminan Hidup untuk 1.200 Siswa per Bulan
- Analisis:
Jika setiap siswa mendapat Rp500.000 per bulan, maka dibutuhkan Rp600 juta setiap bulan atau Rp7,2 miliar per tahun. Dari mana sumber anggaran ini, mengingat APBD Bombana sebagian besar terserap untuk belanja pegawai? - Realita:
Tanpa rencana pendanaan yang jelas, program ini tidak lebih dari janji manis tanpa dasar.
5. WiFi Gratis di Ruang Publik
- Analisis:
Menyediakan WiFi gratis membutuhkan investasi infrastruktur, biaya operasional, dan pemeliharaan jaringan. Tanpa detail teknis, ini menjadi janji yang sulit dipercaya. - Realita:
WiFi gratis di ruang publik kota besar saja sering menghadapi kendala teknis dan pendanaan, apalagi di daerah dengan keterbatasan infrastruktur seperti Bombana.
6. Pajak Motor Gratis bagi Golongan Tertentu
- Analisis:
Kebijakan ini membutuhkan koordinasi dengan pemerintah provinsi, karena pajak kendaraan bermotor adalah kewenangan provinsi. Bagaimana mekanisme pelaksanaannya? Apakah ada kompensasi ke provinsi? - Realita:
Bombana tidak memiliki wewenang langsung atas pajak kendaraan, sehingga janji ini tidak realistis tanpa dukungan regulasi provinsi.
7. Penghapusan Beban Bunga Pinjaman untuk Masyarakat Miskin
- Analisis:
Jika melibatkan bank atau lembaga keuangan, siapa yang akan menanggung biaya bunga? Tanpa regulasi dan subsidi yang jelas, program ini hanya sebatas retorika. - Realita:
Tidak ada mekanisme yang dijelaskan bagaimana pinjaman ini akan difasilitasi, sehingga program ini tampak seperti janji kosong.
Bandingkan dengan PAD dan APBD Bombana
- PAD Bombana: Sekitar kurang Rp100 miliar per tahun.
- APBD Bombana: Berkisar Rp1 triliun, tetapi sebagian besar digunakan untuk belanja rutin seperti gaji ASN, pendidikan, dan kesehatan.
- Kesimpulan:
Untuk merealisasikan sebagian kecil dari 25 program ini saja, Bombana membutuhkan anggaran tambahan yang besar, sementara potensi peningkatan PAD sangat terbatas.
Tingkat Kompetensi SDM di Lingkungan ASN
Dengan keterbatasan SDM yang sering terjadi di tingkat daerah, implementasi program-program besar ini membutuhkan koordinasi dan kapasitas tinggi yang tampaknya sulit dicapai. Distribusi dana, pengawasan, dan pelaporan menjadi tantangan besar.
Kesimpulan Akhir
Program-program ini hanyalah janji bombastis yang lebih mengarah pada rayuan politik daripada solusi nyata. Tanpa rencana pendanaan, mekanisme pelaksanaan, dan kejelasan regulasi, 25 program ini hanya akan menjadi “gula-gula” politik yang membodohi masyarakat Bombana.
Masyarakat harus cerdas dan tidak mudah terjebak janji manis yang hanya berujung pada kekecewaan. Pilih pemimpin yang memiliki program realistis, terukur, dan berpihak pada rakyat.

















