🪶 “Kalau bukan kita yang menjaga budaya ini, siapa lagi? Masa mau diserahkan ke TikTok?”
Begitulah celetuk Ibu Sainah—dengan logat Sasak-nya yang khas, sambil menepuk-nepuk bahu wartawan yang sedang ngos-ngosan naik ke rumah panggungnya. Di balik tawanya yang renyah, ada kobaran api yang tak pernah padam—api yang bukan untuk membakar, tapi untuk menerangi jalan budaya Sasak agar tak hilang ditelan modernisasi yang doyan scroll-scroll tanpa jeda.
🌾 Ibu Sainah dan Yayasan di Kaki Rinjani
Di Desa Ketapang Raya, Dusun Kedome, Lombok Timur—tempat di mana kabut Rinjani turun setiap sore dan ayam jago bisa jadi alarm alami—berdiri Yayasan Astapura Rinjani Ringganis. Tapi jangan bayangkan bangunan mewah dengan plakat emas. Yayasan ini sederhana, namun di dalamnya berdenyut semangat besar.
Anak-anak datang setiap hari, kadang nyeker, kadang bawa bekal singkong rebus. Di sanalah mereka belajar bukan hanya huruf A sampai Z, tapi juga aksara Sasak yang bentuknya bikin bingung tapi maknanya bikin bangga.
“Kalau aksara kita punah, nanti anak cucu nulis surat cinta pakai emoji semua,” kata Ibu Sainah sambil tertawa.
📜 Menyala dari Aksara yang Nyaris Padam
Ibu Sainah, atau yang disapa Inaq Guru Budaya, adalah kombinasi unik antara dosen antropologi, seniman, dan ibu RT yang kalau ngomel bisa bikin maling sadar diri. Ia tak cuma mengajar menulis aksara Sasak, tapi juga menyalakan kesadaran: bahwa budaya bukan fosil.
Dari tangannya, lahir generasi kecil yang pandai membaca lontar, bukan cuma membaca caption Instagram. Mereka menulis kembali aksara leluhur di papan bambu, dengan tangan kecil tapi hati besar.
“Ini bukan sekadar huruf, ini napas kakek-nenek kita,” ujar salah satu muridnya dengan bangga, sambil menghapus peluh di dahi yang masih beraroma minyak kelapa.
🪶 Seni, Laut, dan Limbah yang Berubah Jadi Lukisan
Kalau siang, Ibu Sainah berubah jadi seniman. Limbah hasil laut yang bagi orang kota dianggap “bau dan tak estetik,” di tangannya berubah jadi karya seni yang bisa bikin galeri di Jakarta minder.
Ia tak menjualnya—“Seni itu bukan buat dijual, tapi buat dijaga,” katanya. Lukisan itu diberikan kepada siapa saja yang berjanji akan menjaga budaya, bukan yang cuma jago selfie depan karya orang.
🕺 Senam Adat di Senja Hari
Sore hari di yayasan itu bisa bikin wartawan salah fokus. Para nenek-nenek dan kakek-kakek berkumpul, bersenam ria dengan irama musik tradisional Sasak.
“Senam ini bukan biar langsing, tapi biar warisan tetap kencang,” kata Ibu Sainah sambil memimpin dari depan, dengan selendang batik di pundak dan tawa yang tak kalah nyaring dari gong.
🔥 Menjaga Pusaka, Menjaga Jiwa
Di rumah panggungnya, tersimpan pusaka leluhur berusia ratusan tahun—bukan untuk pamer, tapi untuk dijaga seperti menjaga rahasia cinta pertama. Pembersihan pusaka dilakukan dengan tata cara yang hanya ia pahami.
“Ini bukan barang antik, ini saksi hidup,” katanya pelan. “Kalau pusaka dijual, harga diri ikut laku.”
🌺 Api yang Tak Pernah Padam
Yayasan Astapura Rinjani Ringganis bukan cuma tempat belajar—ia adalah napas kehidupan. Dari aksara hingga seni, dari doa hingga senam sore, semuanya menyala oleh tangan satu perempuan yang percaya: budaya bukan milik masa lalu, tapi bekal masa depan.
“Kalau bukan kita yang jaga budaya Sasak, nanti anak-anak kita cuma tahu Rinjani dari wallpaper ponsel,” katanya sambil tersenyum getir.
Lalu ia menatap ke gunung yang gagah di kejauhan—entah kepada siapa ia berbicara, mungkin kepada leluhur yang sedang tersenyum bangga di balik awan.
🪔 Gareng berkata:
“Wong sing eling karo budayane iku ora bakal ilang identitase, senajan jaman wis keblinger.”
(Orang yang menjaga budayanya takkan kehilangan jati dirinya, meski dunia sudah kebolak-balik.)
📜 Catatan Rakyat Jelata:
Dunia boleh maju, tapi hati yang ingat asal-usul akan selalu jadi penerang.
Di kaki Rinjani, ada seorang perempuan sederhana yang menyalakan lilin budaya.
Dan lilin itu, meski kecil, tak pernah padam—karena dijaga dengan cinta dan tawa.
Apakah Anda juga punya sosok seperti Ibu Sainah di kampungmu?
Kalau ada, jangan hanya kagum—tuliskan, viralkan, dan jagalah.
Karena seperti kata Petruk:
“Budaya iku ora mung kenangan, tapi warisan sing kudu diuripi—sambil ngopi!” ☕















