Di sebuah negeri bernama Republik Indonesia, rakyatnya lagi mumet. Menteri Keuangan baru saja dilantik oleh Presiden. Katanya pintar banget soal angka—utang bisa dihitung, pajak bisa dikutak-katik, grafik ekonomi bisa dia plot kayak main Tetris.
Tapi ada masalah: anaknya pamer kartu bank prioritas ke rakyat jelata. “Lihat nih, aku anak pejabat, punya akses prioritas!” katanya. Lha, rakyat yang ngantri BPJS berjam-jam jadi panas kupingnya.
Gareng langsung nyeletuk:
“Lha, wong simpanse juga pinter buka kelapa. Tapi masak kita mau serahin negara ke simpanse? Pintar tok tanpa adab, yaaa sama wae—ngelmu kucing garong!”
Petruk nambahin, sambil mesem-mesem nyebelin:
“Kalau pejabat gagal ngajarin anaknya sopan santun, opo iso ngurus duit negara? Wong ngatur bocah ae kocar-kacir, opo maneh ngatur APBN yang isinya triliunan.”

Rakyat pun mulai ngerasani di warung kopi:
– “Menteri kok kayak ATM berjalan, keluarganya pamer saldo.”
– “Negara jadi pasar malam, pejabatnya jadi badut, rakyatnya jadi penonton.”
Sindiran makin pedas: di negeri antah berantah ini, ekonomi bukan lagi soal kemakmuran rakyat, tapi soal gengsi pejabat dan keluarganya. Padahal, Pasal 33 UUD Negeri Ajaib jelas-jelas bilang: “Bumi, air, dan kekayaan harus untuk rakyat.” Tapi kenyataannya: “Kartu prioritas, rekening jumbo, dan gaya hidup untuk keluarga pejabat.”
Gareng akhirnya nyeplos, bikin rakyat ngakak tapi juga miris:
“Kalau masih punya malu, menteri kayak gini sebaiknya mundur. Wong rakyat sudah muak, masa harus nunggu rakyat nyanyi dangdut di depan istana dulu baru sadar?”
Rakyat tepuk tangan, tapi dalam hati menitik air mata.
















