Di saat sebagian warga Indonesia sibuk healing ke gunung atau staycation di vila, warga Kampung Buni Baru, Desa Buni Bakti, Babelan, Bekasi justru “staycation” bareng banjir! Bukan karena mau, tapi karena air Kali CBL (Cikarang Bekasi Laut) tiba-tiba naik level — bukan jadi objek wisata, tapi objek musibah!
Air meluap sejak subuh dini hari, pukul 04.30 WIB, Selasa (8/7/2025), dan langsung “check-in” ke rumah-rumah warga. Menurut Ketua RW 09 Dusun V, Ajat Sudrajat, banjir kali ini disebabkan oleh kiriman air dari Sungai Cikeas dan Kali Bekasi, yang entah kenapa kompak banget pagi itu. Nggak tahu ada undangan atau memang langganan.
“Banjir ini karena Kali CBL meluap. Airnya datang dari Cikeas dan Kali Bekasi. Hujannya juga dari kemarin terus-terusan,” kata Pak Ajat kepada GarengPetruk.com, sambil berdiri di teras rumah yang sudah mirip kolam ikan lele.
117 Warga Bertahan, Bukan Karena Suka, Tapi Karena Tak Ada Pilihan
Sebanyak 117 jiwa di Kampung Buni Baru memilih untuk bertahan di tengah genangan air. Bukan karena ingin ikut kontes ketahanan banjir, tapi karena belum jelas apa langkah konkret pemerintah. Sementara ini, warga hanya bisa mengandalkan ember, gayung, dan harapan.
“Kami belum dievakuasi. Belum ada bantuan. Masih bertahan sambil nunggu kepastian dari pemerintah,” ucap salah satu warga sambil mengangkat galon air yang nyaris hanyut.
Langganan Banjir, Tapi Solusi Masih Angin-Anginan
Ini bukan banjir perdana. Bahkan menurut Pak Ajat, wilayahnya sudah langganan banjir tiap musim hujan. Tapi sayangnya, solusi dari pemerintah belum ikut berlangganan juga.
“Sawah dan kebun ikut terendam. Kerugian bisa sampai puluhan juta. Kami mohon pemerintah daerah lebih peduli,” ujar Ajat dengan nada setengah kelakar, setengah menyerah.
Sawah yang harusnya panen malah panik,
Kebun yang harusnya hijau malah keruh,
Dan warga yang harusnya damai malah sibuk mikirin kapan air ini pamit.
Sindiran Khas Gareng & Petruk:
Lha piye jal…
Kali CBL ini apa memang udah jadi “Artis Dadakan”?
Soalnya tiap musim hujan selalu tampil headline!
Tapi sayang, pemerintah malah jadi penonton tetap yang suka bilang,
“Kami prihatin.”
Padahal yang dibutuhkan warga bukan simpati, tapi aksi nyata dan solusi konkret — minimal perahu karet dan logistik, bukan pernyataan politis!
Jangan sampai warga malah bikin TikTok bertema “Life Under Water”, karena tiap tahun harus latihan renang pakai ember dan lemari es ngambang.
GarengPetruk.com Mengingatkan:
Banjir itu bukan takdir, tapi tanda sistem yang bocor! Kalau air bisa datang berulang,
berarti masalahnya bukan hanya hujan,
tapi perencanaan yang belum matang, dan respons yang kadang… telat datang!
#TagarAirNaikSolusiTurun
#CBLKembaliMenggila
#BekasiLanggananBanjir
#JanjiNormalisasiTerseretArus
#GarengPetrukNgakakSambilBasah
Gareng & Petruk percaya: Warga butuh tindakan, bukan sekadar lip service. Karena ketika air datang, yang dibutuhkan bukan pidato, tapi pelampung harapan!
















