Jember, 5 Juli 2025 | garengpetruk.com
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang makin banyak konten prank daripada konten syukur, di sebuah sudut teduh di Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang, malam Sabtu itu bukan malam biasa.
Yayasan Ar Roudhoh kembali jadi tempat berlabuhnya kasih sayang, bukan hanya angin malam dan galau mantan.
50 ANAK YATIM, 1 MALAM PENUH MAKNA
Acara “Santunan dan Gemuruh Doa Bersama Anak Yatim” digelar dengan penuh haru dan bahagia. Bayangkan, 50 anak yatim piatu hadir bukan untuk antre bansos yang isinya mie instan dan foto tokoh, tapi untuk diusap kepalanya, diberi santunan, dan disayang sepenuh hati.
KH. Hisyam Balya, sosok kiai sekaligus penyala harapan, menyampaikan:
“Ini sudah kami lakukan sejak 1990. Dan semangatnya bukan cari nama, tapi cari ridho.”
Waduh, langka sekarang, Kyai yang gak pengin viral tapi pengin barokah!
Bahkan Nabi Muhammad SAW pun, kata beliau, memberi perhatian khusus pada anak yatim. Bukan cuma ajakan retoris, tapi aksi nyata. Bukan cuma foto-foto, tapi pelukan dan doa.
KELILING SANTUNAN: BUKAN PEMILU, TAPI PENUH CINTA
Bantuan diserahkan langsung keliling oleh Hj. Siti Hisyam Balya dan para donatur.
Bukan ala-ala “seremonial panggung besar dengan background sponsor”, tapi langsung sentuhan tangan ke tangan.
Gareng nyentil sambil senyum:
“Ini baru santunan, bukan ‘santun-tampilan’!”
Jumlahnya memang baru 50 anak, tapi semangatnya lebih besar dari pidato pejabat tentang empati nasional.
“Belum semua anak yatim Jember, tapi dimulai dari yang kita bisa,” kata Bu Hj. Siti.
Ini kalimat sederhana, tapi menampar para elite yang baru bergerak kalau ada kamera!
GEMURUH DOA, GEMURUH HATI
Acara ditutup dengan doa bersama. Gak ada teriakan politik, gak ada debat kusir, cuma gemuruh lirih doa anak-anak kecil yang suaranya lebih tulus daripada mic acara seminar.
Kata Gareng:
“Doa anak yatim itu kayak surat cinta yang langsung dibaca Tuhan. Nggak perlu sensor, nggak perlu endors-an.”
KH. Hisyam pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh dewan guru, donatur, tokoh masyarakat, dan para guru TK-MI yang ikut membungkus cinta dalam bungkus sederhana, tapi mengenyangkan hati.
GARIS PETRUK: SAAT KASIH SAYANG LEBIH NYATA DARI BROSUR BANSOS
Di zaman serba pencitraan, acara seperti ini jadi oase.
Bukan soal besar atau kecil bantuannya,
tapi besar atau kecil hatinya.
Acara ini jadi pengingat bahwa merawat anak yatim itu bukan pekerjaan musiman, bukan juga pajangan kegiatan tahunan, tapi bagian dari mewarisi akhlak kenabian.
Kalau pemerintah daerah dan tokoh nasional mau belajar, datanglah ke Ar Roudhoh.
Di sana tidak ada panggung besar, tapi ada hati besar.

📛 #10Muharram #DoaAnakYatim #YayasanArRoudhoh #CintaYangNyata #GarengPetrukNgeliput #SantunanBukanSettingan #UsapKepalaBukanCumaStatus













