Pendahuluan: Bekasi Bukan Planet Lain
Siapa bilang Bekasi itu planet asing? Kalau macet bisa bikin semedi, panas bisa nyetrum, dan harga kontrakan bisa bikin dompet auto puasa, bukan berarti Bekasi nggak layak diteliti secara ilmiah. Justru, di tengah gegap gempita pembangunan flyover dan ruko-ruko baru yang tiap bulan berubah jadi sepi, masyarakat Bekasi menyimpan harta karun budaya yang bisa dijadikan cermin pembangunan: yaitu mata pencaharian mereka.
Menurut Spradley (2006), etnografi adalah “usaha untuk memahami makna dari sudut pandang orang dalam”. Artinya, kalau mau tahu kenapa tukang bubur di Bekasi jualannya pagi-pagi buta sambil ngedengerin dangdut koplo, ya jangan diteliti pakai Excel doang.
Bekasi dan Mata Pencaharian: Dari Ojek Online hingga Jualan Preloved
Penelitian Siahaan & Simarmata (2015) menunjukkan bahwa migrasi urban dan tekanan ekonomi telah menciptakan bentuk-bentuk pekerjaan baru di pinggiran Jakarta, termasuk Bekasi. Lapangan kerja bukan hanya formal (yang tiap Senin pakai baju batik demi konten TikTok), tapi juga informal yang fleksibel, adaptif, dan kadang absurd—kayak jualan martabak isi 3 rasa dalam satu loyang.
Di sinilah etnografi berperan. Ia menyelami logika lokal masyarakat. Misalnya:
-
Kenapa ibu-ibu lebih memilih jualan kue lapis homemade daripada ikut MLM?
-
Mengapa tukang tambal ban di perempatan bisa tahu gosip RT?
-
Bagaimana warteg bisa jadi tempat survei ekonomi paling jujur?
Menurut Marcus (2008), pendekatan multi-situs dalam etnografi memberi peluang untuk mengkaji dinamika ekonomi mikro secara lebih dalam.
Sindiran: Pembangunan yang Tak Bertanya
Banyak program pembangunan ekonomi lokal yang datang seperti tamu tak diundang: bawa proposal, presentasi PowerPoint, lalu hilang dengan janji pelatihan sablon yang tak kunjung nyablon. Padahal, menurut Geertz (2005), kunci memahami masyarakat ada pada simbol dan narasi yang mereka bentuk sendiri—bukan lewat indikator statistik yang tak paham nasi uduk tiga ribuan.
Lucunya, program pelatihan “kewirausahaan” seringkali tak mempertimbangkan kearifan lokal. Misal, ngajarin ibu-ibu bikin startup digital, padahal sinyal WiFi saja baru nongol kalau angin bertiup ke utara.
Data Lapangan: Hasil Ngobrol dan Ngopi
Menurut survei mikro oleh Kementerian Koperasi dan UMKM (2022):
-
62% pelaku ekonomi informal di Bekasi tak pernah dilibatkan dalam proses perencanaan pembangunan ekonomi.
-
47% merasa bantuan modal hanya menyentuh permukaan, tanpa pendampingan nyata.
-
38% pernah ikut pelatihan, tapi materi dan kenyataan lapangan seperti nonton sinetron dan ngerjain skripsi: beda dunia.
Kutipan-Kutipan Ilmiah yang Bukan Basa-basi
“The strength of ethnography is not in counting people, but in understanding people.”
— Hammersley & Atkinson, 2007
“Development fails when it ignores cultural meanings and local rationalities.”
— Escobar, 2004
Penutup: Etnografi sebagai GPS Pembangunan
Kalau pembangunan adalah mobil, maka etnografi adalah GPS-nya. Tanpa GPS, kita bisa nyasar ke proyek-proyek yang tampak keren di PowerPoint tapi zonk di lapangan. Terutama untuk urusan mata pencaharian, etnografi mengajarkan kita untuk mendengar sebelum merancang, bertanya sebelum menyimpulkan, dan ngopi dulu sebelum ngasih solusi.
Bekasi bukan sekadar kota penyangga. Ia adalah ladang kehidupan, penuh strategi bertahan hidup yang hanya bisa dimengerti kalau kita berhenti jadi perencana yang sok tahu, dan mulai jadi peneliti yang mau duduk bareng tukang gorengan.
Referensi
-
Geertz, C. (2005). Local Knowledge: Further Essays in Interpretive Anthropology. Basic Books.
-
Marcus, G. E. (2008). Ethnography through Thick and Thin. Princeton University Press.
-
Hammersley, M., & Atkinson, P. (2007). Ethnography: Principles in Practice. Routledge.
-
Siahaan, J., & Simarmata, R. (2015). Urban Informal Economy in Greater Jakarta: An Ethnographic Overview. UI Press.
-
Spradley, J. P. (2006). The Ethnographic Interview. Waveland Press.
-
Kementerian Koperasi dan UMKM. (2022). Laporan Statistik UMKM Wilayah Perkotaan.
Kalau artikel ini bikin kamu senyum, mikir, dan ngopi lebih pelan, berarti etnografi kita sudah bekerja. Kalau belum, yuk kita bikin tim riset bareng sambil makan gorengan di pinggir Kalimalang.
















