Jakarta, garengpetruk.com – Minggu pagi, 29 Juni 2025, Jakarta mendadak jadi lintasan super panjang! Bukan karena TransJakarta nyasar, tapi karena 31 ribu pelari dari 51 negara tumplek blek di ibukota dalam ajang Jakarta International Marathon (JAKIM) 2025. Sebuah ajang yang bikin warga Jakarta ikut berkeringat… tapi bukan karena lari, melainkan karena muter-muter cari jalan pulang!
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, yang sekarang makin sering muncul di tempat olahraga daripada di ruang rapat, bilang, “Pelaksanaan Jakarta International Marathon ini diikuti pelari dari 51 negara.” Luar biasa, Jakarta akhirnya jadi kota global—minimal buat sehari, dan itu pun sambil lari!
BTN, JAKIM, dan Jalanan Tanpa Dosa
Ajang ini diselenggarakan bareng Bank Tabungan Negara (BTN). Entah biar saldo tabungan lari juga atau biar orang tua yang nonton bisa sekalian ngurus KPR. Yang jelas, JAKIM ini bukan acara biasa. Mulai dari Silang Barat Laut Monas, pelari dilepas jam 05.15 WIB, lalu melintasi Jalan Medan Barat, dan finish gagah-gagahan di kawasan Gelora Bung Karno (GBK).
Pemprov DKI sendiri mendukung penuh acara ini. Yah, siapa tahu dari marathon ini lahir pemimpin masa depan, atau setidaknya… influencer baru.
“JAKIM sepenuhnya didukung pemerintah Jakarta,” kata Pak Gub dengan penuh semangat. Dukungan ini pun dibuktikan dengan menutup 32 ruas jalan! Iya, tiga puluh dua, alias hampir semua jalur penting di Jakarta. Jadi, kalau ada warga yang terjebak di tengah jalan sambil bingung: “Ini Jakarta atau labirin?” — ya, mohon maaf, sedang ada festival lari nasional.
Dishub DKI: Dari Pengatur Lalu Lintas Jadi Tukang Setrum Sabar Warga
Syafrin Liputo, Kepala Dinas Perhubungan DKI, menjelaskan: “Kami menutup jalan menggunakan barikade, water barriers, dan traffic cone.”
Yang belum disebut: doa para warga agar sabarnya tetap utuh, dan klakson mobil tidak pecah.
Beberapa titik krusial ditutup:
Jalan Medan Merdeka Barat sisi Timur
Simpang Thamrin-Kebon Sirih
Dan puluhan titik lainnya yang bikin warga mikir dua kali: “Mending ikutan lari aja sekalian daripada nyasar ke ujung Menteng…”
Komentar Gareng & Petruk: Lari Boleh, Tapi Jangan dari Masalah!
Petruk, yang nyaris ikutan JAKIM tapi gagal karena kelelahan cari parkiran, nyeletuk:
“Keren sih acaranya, tapi jangan sampai tiap minggu ada JAKIM-JAKIM lain. Nanti Jakarta isinya pelari semua, yang kerja pada lari, yang mikir juga lari dari tanggung jawab!”
Sementara Gareng, sambil makan lontong sayur di pinggir jalan yang ditutup, bilang:
“Acara bagus itu yang sehat, meriah, tapi nggak bikin warga jadi korban. Ini marathon, bukan invasi luar angkasa. Kasihan ojol, kasihan tukang bubur, kasihan mantan yang masih nyari arah pulang…”
Penutup yang Tidak Terburu-Buru
JAKIM 2025 berhasil mengumpulkan 31 ribu pelari dan 6 juta keluhan netizen. Tapi setidaknya, Jakarta hari itu bebas polusi knalpot, diganti polusi keringat internasional. Salut untuk semua pelari, panitia, dan warga yang lari dari kemacetan… dengan cara pura-pura sakit biar nggak perlu keluar rumah!
Karena di Jakarta, lari adalah seni…
Dan bertahan adalah prestasi!















