Batu, 21-6-2025 – Kalau hidup ini adalah panggung sandiwara, maka pantun adalah musik pengiringnya. Tidak selalu mendayu-dayu, kadang nyindirnya lebih pedas dari sambal rujak di tepi kali. Dan hari ini, kita tidak sedang membahas politik yang tak selesai-selesai, atau harga cabai yang naik-turun macam perasaan mantan. Kita bicara tentang pantun — si pendek tapi nendang, si jenaka tapi bijak, si sederhana tapi kaya makna.
Gareng Petruk, kalau boleh numpang ngamen sebentar di rubrik budaya, akan bilang: “Lho, le… pantun kuwi dudu mung basa-basi kancil nyolong timun. Tapi uwong nyolong waktu kanggo eling marang urip sing kudu ditata!”

Pantun Pertama: Melati dan Bau Kebaikan
Ke taman beli bunga melati
Harum mewangi sepanjang hari
Sekian saja cukup di sini
Semoga manfaat jadi pahami
Melati ini bukan sembarang melati, Le. Bukan pula melati di acara resepsi yang dipasang nempel di keris pengantin. Ini melati batin. Yang wanginya bukan karena parfum, tapi karena perbuatan baik. Coba bayangno, Le, kalau orang-orang di dunia ini rajin ngebagi kebaikan kayak giveaway akun selebgram. Dunia bisa harum, pol! Tapi ya itu… kadang yang dibagi malah gosip dan link hoaks.
Pantun Kedua: Sawah, Cangkul, dan Jerih Payah
Pergi ke sawah bawa cangkul
Kerja keras panen pun datang berkah
Terima kasih semoga ilmu tak tenggelam keruh
Bagai manggul yang setia menampung air megah
Pantun ini cocok buat anak-anak zaman sekarang yang kalau disuruh kerja kelompok cuma nyumbang nama. Coba contohlah si cangkul, Le! Dia nggak pernah protes walau tiap hari dipakai nyangkul keras tanah kehidupan. Biar ilmu nggak jadi endapan, kudu ada aksi. Kalau cuma nonton video motivasi tapi habis itu rebahan, ya panennya cuma mimpi.

Pantun Ketiga: Bali dan Harmoni
Naik kapal menuju Pulau Bali
Pesona pantai indah memukau hati
Terima kasih atas perhatian kali ini
Sampai jumpa dalam cerita dan harmoni
Bali di sini bukan cuma tujuan wisata, tapi tujuan jiwa. Tempat kita pengin sampai kalau sudah selesai berdamai sama diri sendiri. Tapi ya, kadang yang kita bawa dalam perjalanan itu bukan tas, tapi beban masa lalu. Coba, Le, ringanno sikap, ringanno hati. Biar hidup nggak capek meski banyak gelombang. Ingat, kapal yang kokoh bukan yang besar, tapi yang tahan oleng.
Pantun Keempat: Rujak dan Rasa Hidup
Makan rujak segar di tepi kali
Sambal pedas menggugah selera hati
Cukup sekian kami tutupi,
Semoga rindu ilmu tak kan mati
Rujak ini lebih filosofis dari filsuf! Campur aduk buah dan sambal itu ya kayak hidup: manis, asem, pedas, dan bikin nagih. Tapi jangan cuma nagih cuan dan like, Le. Nagihlah ilmu. Karena rindu ilmu itu lebih sehat daripada rindu mantan yang udah punya pasangan.
Pantun Kelima: Kebun Binatang dan Keragaman
Jalan-jalan ke kebun binatang
Melihat fauna dari berbagai bidang
Semoga langkah ini bawa terang,
Cahaya pengetahuan menyala di ruang terang
Kebun binatang ini bisa jadi cermin masyarakat. Ada yang galak kayak harimau medsos, ada yang santai kayak koala di jam kerja. Tapi dari semuanya, kita bisa belajar bahwa setiap makhluk punya perannya. Jadi, stop banding-bandingkan hidupmu dengan influencer! Monyet pun nggak pengin jadi singa. Jadi dirimu sendiri, tapi upgrade terus wawasannya. Jangan jadi manusia yang kalah sama kura-kura: lambat, tapi setia sama tujuan.
Kesimpulan ala Gareng:
Pantun-pantun ini bukan sekadar puisi berima. Ia adalah soundtrack kehidupan yang bisa dinyanyikan siapa saja, dari petani sampai dosen, dari sopir angkot sampai menteri pendidikan. Ia mengajarkan kita untuk:
Wangi tanpa harus mewangi-wangi (alias sok suci di media sosial).
Bekerja keras tanpa harus pamer hasil.
Berlayar jauh tanpa harus tenggelam dalam drama.
Menikmati hidup tanpa kehilangan arah belajar.
Menghargai perbedaan tanpa merasa paling hebat.
Pantun itu seperti nasi kucing di angkringan: kecil, tapi mengenyangkan jiwa. Maka dari itu, mari kita hidupkan kembali pantun, bukan hanya sebagai hiasan pidato atau tugas sekolah, tapi sebagai warisan kebijaksanaan yang penuh selera dan rasa.
Jadi, Le, daripada bikin status galau yang nggak dibaca siapa-siapa, mending bikin pantun. Siapa tahu, dari sana kamu bisa dapat pencerahan… atau minimal, dapat senyum dari hati yang rindu makna.
Gareng out.
(Masih nyangkul pantun, sambil makan rujak dan ngelamun di pinggir kali.)















