Cimahi, 14 Juni 2025 – Ada yang bilang, kalau negara itu seperti pemain catur dunia. Tapi sayangnya, banyak yang lupa: kita ini bukan Raja, bukan Menteri, apalagi Kuda. Kadang kita ini malah pion… yang belum tentu jalan, karena nunggu aba-aba dari tukang dagang.
Nah, gara-gara baca tulisan Pak Radhar Tribaskoro soal “Non-Blok atau Netral?”, kepala Garèng langsung muter kayak kipas angin kelilipan plastik. Wah, ini bukan sekadar soal diplomasi. Ini soal: kita ini berdiri di mana sih sebenarnya?
—
Netral Itu Diam, Non-Blok Itu Galak. Kita? Lagi Mikir…
Dulu waktu sekolah, kita hafal: Gerakan Non-Blok lahir di Bandung, tempat para pemimpin dunia ngumpul sambil ngebahas kemerdekaan dan harga diri. Bung Karno, Nehru, Tito, Nasser… wuih, tokoh besar semua. Mereka bilang, “Kami tak ingin jadi alat perang orang lain!”
Tapi zaman sekarang? Lha kok rasa-rasanya kita malah takut salah langkah, takut sebelah pihak nggak kasih proyek, takut yang lain nggak kirim utang lunak.
Dulu Non-Blok itu berdiri tegak meski diapit dua gajah, sekarang kita malah jongkok, sambil berharap gajahnya nggak nginjak!
—
Netralitas ala Swiss vs Netralitas ala Kita
Swiss, negara kecil tapi teguh: nggak kirim senjata ke mana-mana, tapi juga nggak diam kayak patung Pancoran. Dia kasih sanksi, kasih sikap.
Kita? Ya… ya begitu deh. Teriak keras di mikrofon, tapi bisik-bisik ke investor. Kalau ada konflik, kita datang ke lokasi, foto-foto, terus bilang: “Kami prihatin.” Lha kapan mediasi? Kapan negosiasi?
Kita ini netral bukan karena prinsip, tapi karena bingung: kalau bersuara, ntar yang marah siapa? Kalau diam, ya aman… untuk sementara.
—
Ketika Gaza dan Ukraina Hanya Jadi Judul Berita
Waktu Israel bombardir Gaza, dunia pecah suara. Tapi Indonesia? Seperti orang tua di pojokan, ngedumel tapi gak ikut ngumpul. Kalau Rusia nyerbu Ukraina? Kita cuma geleng-geleng kepala sambil nyeruput teh, terus bilang, “Aduh, semoga damai ya…”
Garèng nanya: Kita ini negara besar lho. Penduduk banyak, sejarah penuh perjuangan, diplomasi kelas dunia. Tapi kok kayak temen nongkrong yang cuma nonton doang?
—
Dunia Perang, Kita Ngitung Dagang
Aduh… kalau perang pecah antara Amerika dan Tiongkok, kita ini bakal kayak anak kos di tengah pertengkaran tetangga: bingung mau bantu siapa, tapi takut ditagih listrik dua kali.
Padahal, seperti kata Pak Radhar, inilah saatnya kita kembali ke semangat Non-Blok yang sejati. Bukan sekadar menolak ikut perang, tapi punya sikap, keberanian, dan pilihan. Berdiri karena prinsip, bukan karena saldo devisa.
—
Diam Itu Bukan Strategi, Itu Bisa Jadi Kuburan
Kita sering kira, diam itu aman. Padahal dunia bergerak cepat. Kalau kita diam, kita ditinggal. Kalau kita pasif, kita dilupakan.
Garèng ingat pepatah tua:
> “Kalau kamu tidak menentukan arahmu sendiri, orang lain yang akan menggiringmu ke arah yang mereka suka.”
Dan dalam politik internasional, digiring itu bukan prestasi. Itu tanda: kamu nggak punya pijakan.
—
Kesimpulan ala Petruk
Kalau hari ini Bung Karno bangkit dari pusaranya, mungkin beliau bakal nyari mikrofon, trus teriak:
> “Non-Blok itu bukan soal duduk diam. Itu soal berdiri gagah, meski dikeroyok dua arah!”
Dan Garèng mau nambahin:
> “Jangan jadi bangsa yang hanya berdiri di tengah karena takut ditarik ke kiri atau kanan. Berdirilah karena punya dasar, bukan karena nggak punya pilihan.”
Jangan sampai dunia tanya, “Indonesia kamu di mana?”
Terus kita jawab: “Kami ada, tapi kami lagi mikir…”
Salam non-blok, salam waras, salam tak gentar!
— Gareng Petruk, sedang belajar geopolitik dari warung burjo dan selembar opini.
—
🖌️ Rubrik: Opini
✍️ Penulis: Radhar Tri Baskoro
🖼️ Ilustrasi: Sketsa AI, ekspresi Garèng waktu dengar diplomasi netral versi ‘nggak enak sama semua pihak’.















