Jakarta – Sebuah pemandangan langka tersaji di panggung megah International Conference on Infrastructure (ICI) 2025).
Bukan karena ada pertunjukan debus atau konser boyband Korea, tapi karena acara serius ini mendadak jadi ajang pembongkaran dosa regulasi yang bikin investor garuk-garuk dompet dan rakyat garuk-garuk kepala.
Hadir Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, sang pendekar tanah negara yang siap gulung karpet merah birokrasi, didampingi Wakil Menteri Ossy Dermawan, sang partner duet yang selalu siap ngopi di tengah berkas.
Acara yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) ini dibuka langsung oleh Presiden Prabowo Subianto yang tampil dengan gaya khas: tegas, lugas, dan tanpa basa-basi. Kalau saja mikrofon bisa berkeringat, mungkin sudah banjir karena ketegasan beliau!
—
Presiden Prabowo: “Izin Dipotong, Lahan Jangan Dipelintir!”
Dengan lantang, Pak Presiden bilang:
“Kita akan sederhanakan perizinan dan proses pengadaan lahan.”
“Kita akan tertibkan. Kita akan tegakkan hukum. Hanya dengan kepastian hukum, iklim usaha akan berkembang dengan baik.”
Gareng yang hadir via live stream sambil ngopi bilang:
“Wah, ini baru namanya kebijakan nasi goreng: cepat saji, panas membakar, dan bikin kenyang para investor!”
Regulasi yang selama ini ribet kayak tali sepatu triple knot, katanya akan digunting tanpa ragu. Jadi investor tak perlu lagi muter-muter kayak odong-odong izin dari RT sampai kementerian.
—
Menteri Nusron: “Dulu Lahan Dibelit, Sekarang Mau Diluruskan!”
Pak Menteri Nusron, yang selama ini dikenal sebagai tukang beber peta tanah rakyat, tampak sumringah. Ia siap angkat cangkul (versi kebijakan) untuk menggemburkan tanah hukum yang lama keras kayak beton sisa proyek mangkrak.
“Tugas kami jelas: bikin rakyat dan investor bisa bernapas bareng, tanpa saling injak tanah satu sama lain.”
Begitu katanya, sambil menunjuk peta digital tapi dalam hati mungkin rindu main layangan di sawah.
—
AHY: “Ini Bukan Lanjut, Tapi Bangkit!”
Yang tak kalah nyentrik, Menko IPK Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga tampil puitis.
“Kami menyebutnya infrastruktur sebagai strategi negara. Ini bukan sekadar kelanjutan, ini kebangkitan.”
Gareng mendadak puisi juga:
“Wahai infrastruktur, engkau bukan lagi jalan tol semata, tapi jalan terang ke masa depan bangsa yang tak lagi nyangkut di izin warisan masa lalu.”
—
Peserta 33 Negara Mangut-mangut, Tapi Dalam Hati Mungkin Bilang…
“Wah, Indonesia mulai serius nih!”
Delegasi dari 33 negara hadir, mulai dari diplomat, akademisi, hingga investor kaliber “sultan beneran”. Mereka melihat bahwa Indonesia tak lagi cuma jago bikin maket proyek, tapi mulai benar-benar bangun tanpa drama surat-surat hilang atau tanah nyasar.
—
Gareng Nutup Dengan Ngelus Dada dan Senyum Nakal
“Semoga setelah ICI ini, tanah tak lagi rebutan, izin tak lagi permainan, dan proyek tak lagi cuma panggung pencitraan.”
“Kalau kata Presiden sudah mau gebuk birokrasi, kita tunggu… gebuknya jangan pakai bantal, ya Pak.”
“Rakyat nunggu bukan janji manis, tapi jembatan nyata dan sawah tetap milik petani.”
—
GarengPetruk.com – Menyambut infrastruktur dengan tawa, tapi tetap waspada kalau tanah tiba-tiba berubah jadi tower.
Sebab pembangunan tanpa hati, bisa bikin rakyat cuma jadi penonton di rumah sendiri.
















