Situbondo – Ada pepatah bilang, “Pohon boleh tumbang, tapi jangan sampai hukum ikut rebah.” Tapi di kawasan Perhutani KRPH Bayeman, Desa Kayumas, Kecamatan Arjasa, Situbondo, pepatah itu seperti dilempar ke semak-semak. Pembalakan liar alias illegal logging kembali unjuk gigi—bukan dalam bentuk sinetron, tapi kenyataan yang bikin rakyat geleng kepala dan aparat garuk-garuk janggut.
Jati yang mestinya berdiri gagah di hutan, malah rebah berserakan kayak korban tikungan cinta.
Total ada 36 batang pohon jati yang berhasil diamankan. Bukan oleh pelaku, tapi oleh Perhutani yang gercep bertindak setelah laporan dari Kelompok Tani Hutan (KTH) dan warga sekitar.

—
Gareng Petruk Bertanya, Hutan Menjawab dengan Sunyi
Gareng, sambil duduk di warung kopi dekat Polsek Arjasa, nyeletuk:
“Kalau jati-jati itu bisa ngomong, pasti mereka teriak: ‘Kami ditebang bukan karena tua, tapi karena serakah manusia!'”
Begitu laporan masuk, Mantri Hutan langsung turun gunung. Bukan buat camping, tapi buat cek lokasi dan bawa bukti. Pelaporan resmi langsung masuk ke Mapolsek Arjasa, lalu dilimpahkan ke Polres Situbondo. Kata KRPH Bayeman, berkasnya sudah naik kelas: dari dugaan jadi penanganan serius.
—
Penyidik Naik ke Gunung, Pelaku Turun ke Lubang
Penyidik Polres Situbondo bersama Mantri Hutan sudah melakukan serangkaian tahapan penyelidikan. Dari cek lokasi, dokumentasi, ngitung batang pohon, hingga mengendus jejak pelaku yang katanya seperti ninja: muncul pas malam, hilang pas siang.
Gareng berkomentar sambil ngelus kumis tipisnya:
“Kalau pelakunya bisa hilang terus, jangan-jangan dia alumni Hogwarts jurusan Pembalakan Hitam!”

—
Aktivis dan Warga Turun Gunung (Beneran)
Kaji, aktivis lingkungan sekaligus tokoh masyarakat Desa Kayumas, memberikan apresiasi—tapi tetap dengan wajah waspada:
> “Kami dukung Polres Situbondo bongkar tuntas dugaan mafia kayu. Kami juga siap bantu bukti tambahan. Tapi jangan sampai kasus ini hanya digoreng sebentar lalu dibiarkan dingin kayak gorengan sisa acara RT.”
—
Sindiran Tajam tapi Tetap Sayang
Gareng pun menutup berita ini sambil menyisipkan sindiran:
> “Negara boleh kaya hutan, tapi jangan sampai hutannya miskin pohon. Karena kalau jati habis, bukan cuma bangunan ambruk, tapi juga moral ikut keropos.”
—
Harapan Tak Boleh Ditebang
Rakyat Situbondo, khususnya warga Kayumas, menanti. Bukan hanya pohon baru untuk ditanam, tapi keadilan untuk ditegakkan.
Karena menebang pohon tanpa izin itu kejahatan, bukan hobi. Dan menutup mata atas kerusakan lingkungan itu bukan netral, tapi nyebelin.
—
Fajar
GarengPetruk.com – Portal waras penuh tawa, tapi waspada.
Karena hutan adalah paru-paru, bukan ladang cari untung segelintir orang!
















