Pasuruan kembali bikin geger, tapi bukan karena jalan berlubang atau gorengan lima ribu dapet tiga. Bukan, Cak! Ini tentang pengamanan super ketat ala “Pasukan Khusus Anti-Ngeyel” dari Polres Pasuruan, menyambut Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo.
Iyalah, momen sakral masyarakat Suku Tengger ini bukan acara 17-an RT, tapi ritual penuh makna spiritual—di mana sesajen dilempar ke kawah, bukan ke tong sampah. Beda, to?
—
Pasukan Diterjunkan, Tapi Bukan Buat Nguber Debt Collector
Kapolres Pasuruan, AKBP Jazuli Dani Iriawan, dengan wajah segar dan senyum setengah tanggung—karena pasti belum sarapan—mengumumkan bahwa 60 personel akan dikerahkan. Tapi bukan buat ngatur macet di pasar, lho. Ini buat jaga tiga titik sakral: Pendopo Wono Kitri (bukan Warkop Pak Kitri), Desa Balai Dono, dan pintu masuk TNBTS & Wonokitri.
“Dikhawatirkan rawan kerumunan dan gangguan,” kata Pak Kapolres. Ya maklum, kadang ada wisatawan suka sok spiritual, tiba-tiba ikut-ikutan lempar sesajen sambil selfie dan caption #blessed.

—
Rapat Koordinasi: Serius Tapi Jangan Lupa Ngopi
Rapat lintas sektor sudah digelar 15 Mei lalu. Hadir semua: Forkopimcam, tokoh agama, tokoh masyarakat, BPBD, TNBTS, bahkan pelaku wisata. Pokoknya, kalau ditambah dukun, lengkap sudah kayak Avengers: Edisi Bromo.
Dari hasil rapat itu, disepakati bahwa pada 10 Juni 2025, Bromo ditutup total sejak pukul 00.01 WIB. Hayo, siapa yang masih niat camping sambil bikin konten “sunrise di Bromo”? Simpan dulu tripod-nya, Mas.
Sementara tanggal 12 dan 14 Juni dipakai buat bersih-bersih. Ya, bersih-bersih beneran, bukan bersih-bersih ala janji kampanye.
—

Wisatawan, Tolong Jangan Ngaku Spiritual Kalau Cuma Pengen Viral
Pak Kapolres juga mengimbau dengan bahasa halus tapi makjleb: Hormati budaya Tengger. Ini bukan tempat buat pacaran di atas jeep sambil nyetel lagu Cinta Luar Biasa.
Hormatilah upacara orang. Kalau nggak bisa ikut sakral, minimal jangan ganggu. Karena kesakralan itu bukan sesuatu yang bisa di-crop dan dikasih filter.
—
Gareng-Petruk’s Notes:
Satu tepuk tangan buat Polres Pasuruan yang sigap dan sadar budaya. Di negeri yang kadang jalan tol lebih cepat jadi dari pada toleransi sosial, upaya menjaga adat Tengger ini layak diacungi dua jempol dan satu sandal jepit (asli, bukan KW).
Tapi semoga pengamanan ini bukan cuma formalitas atau “ceremonial foto-foto bareng”, ya Pak! Soalnya, kalau yang diamankan cuma lokasi tapi bukan niat wisatawan yang kadang kayak konten kreator gagal, ya percuma juga.
Jadi, buat yang masih ngotot mau naik Bromo tanggal 10: tahan dulu, rek! Jangan sampai dari niat healing malah ending-nya dealing sama aparat.
Karena ingat, Bromo itu bukan lokasi syuting FTV bertemu cinta di atas awan, tapi rumah spiritual masyarakat Tengger yang sudah ada jauh sebelum drone jadi alat selfie.
—
Sekian laporan dari Bromo, Gunung sakral bukan buat viral.
















