BATU, garengpetruk.com – Di tengah semilir angin pegunungan dan aroma apel Malang yang manja, tiba-tiba udara Kota Batu mendadak tegang tipis kayak dompet menjelang akhir bulan. Yayasan Ujung Aspal (YUA) yang dipimpin Mas Alex Yudawan, menebar surat terbuka yang isinya lebih panas dari gorengan kampus: menggugat pengelolaan Dana Hibah, Penyertaan Modal, dan DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
Gareng mencatat: Ini bukan surat cinta biasa, tapi surat cinta berisi sindiran tajam, kayak mantan yang udah nikah tapi masih ngode di story.
Dalam surat yang dikirim ke Walikota Batu dan para wakil rakyatnya, YUA nuwun sewu dengan gaya sopan tapi silet: “Pengelolaan keuangan daerah itu harus profesional, terbuka, dan bertanggung jawab demi kemakmuran rakyat.”
Gareng nyeletuk: Lha iya to, kalau demi kemakmuran pejabat doang, namanya bukan APBD, tapi Anggaran Penuh Buat Diri-sendiri.
Poin pertama: Dana hibah. Katanya harusnya berdasarkan urgensi dan tidak terus-menerus. Tapi kadang malah jatuh ke ormas jadi-jadian yang muncul setahun sekali pas musim proposal, kayak jamur setelah hujan.
Poin kedua: Penyertaan Modal untuk BUMD. Keren di atas kertas, tapi kalau modalnya disertakan terus, laba gak kunjung nyala, rakyat cuma bisa nyanyi: “Kapan kita untung, Bang?”
Poin ketiga yang ngebul asapnya: DBHCHT. Dana dari cukai rokok ini harusnya buat kesejahteraan petani, buruh pabrik, dan edukasi kesehatan. Tapi kadang nyasar ke gapura desa 80 juta yang roboh sebelum lebaran.
Gareng garuk kepala: Uang dari tembakau, tapi yang tembakaunya malah tetap melarat. Yang kaya justru yang nempelin stiker “Dana Ini Dari Cukai” sambil naik mobil dinas baru.
Mas Alex dan YUA juga ngasih wejangan yang makjleb: “Penerapan sistem pembuktian terbalik penting dalam kasus korupsi.” Artinya, kalau pejabat punya aset mewah tapi slip gaji masih UMR, ya bukan kita yang harus buktiin. Mereka dong yang kudu jujur, bukan malah main petak umpet sama KPK.
Surat YUA ini mungkin nggak pakai font merah menyala, tapi isinya jelas bikin beberapa meja kantor Pemkot panas kayak setrika. Tapi tenang, Gareng percaya, kalau pejabatnya niat melayani, surat semacam ini bukan hinaan, tapi vitamin.
Gareng tutup dengan doa:
Semoga surat terbuka ini bukan dianggap angin lalu. Sebab dari ujung aspal pun, suara rakyat bisa nyampe ke atas – asal yang di atas gak pura-pura budeg.
(Catatan: Surat YUA sudah masuk, tinggal kita tunggu balasan. Tapi kalau balasnya pakai kalimat: “Akan kami kaji”, yaa… itu sih template zaman Orde Lama.)

















Pertanyaan yang lazim. Surat YUA pakai bahasa apa sih?. Sehingga butuh waktu mengkajinya. Jangan- jangan gunakan bahasa planet.🤪🤪