Ndoro, para pembaca budiman dan budimana, pernahkah sampean nonton ronggeng tapi yang bikin mikir sampe jungkir balik? Nah, itu lho… “Ronggeng Dukuh Paruk”. Bukan sembarang goyang! Ini goyang penuh guncangan batin dan kritik sosial yang lebih pedes dari sambel terasi dimakan sama politikus pas kampanye.
Dukuh Paruk: Desa Kecil, Masalah Nasional
Bayangno, Dukuh Paruk itu kecil, tapi masalahnya level nasional! Di sana Srintil—si mbakyu ronggeng—nggak cuma digoyangin musik kendang, tapi juga digoyangin tradisi yang maunya cewek jadi tontonan, bukan pemikir. Tradisi kok ya semacam kartu kredit: enak di awal, nyesek di akhir!
Srintil itu semacam aktivis feminis versi keroncong. Goyangnya memang lemah gemulai, tapi pesannya keras kayak batu nisan: “Perempuan bukan properti desa!”
Ronggeng vs PKI: Cinta dalam Dekapan Dendam
Lha, di tengah angin sepoi-sepoi desa, datanglah angin ribut: politik 1965! Dan Srintil, yang dari awal cuma pengen joget dan dicintai Rasus, malah dituduh terlibat dalam drama nasional. Salah Srintil apa coba? Wong dia cuma ronggeng, bukan rombongan ormas!
Tohari, penulisnya, nulis pakai tinta tapi rasanya kayak pakai darah. Saking dalamnya, pembaca bisa nyesek sambil mikir, “Wah, ini novel apa catatan kelam bangsa?”
Goyang Srintil, Goyang Demokrasi
Ndoro, dalam setiap gerak tari Srintil itu ada makna. Goyang ke kiri: simbol perlawanan. Goyang ke kanan: sindiran buat sistem patriarki. Goyang di tempat: potret stagnansi negara yang katanya merdeka, tapi rakyatnya masih makan singkong sambil dengerin pidato berbahasa langit.
Srintil itu seperti rakyat jelata: goyang terus, tapi nggak pernah maju.
Ahmad Tohari: Ronggeng dari Dunia Tulisan
Pak Tohari ini bukan cuma penulis, tapi dukun kata-kata! Bisa nyulap Dukuh Paruk jadi cermin bangsa. Gaya bahasanya kalem, tapi makjleb! Kayak ibu-ibu yang ngomel sambil nyeduh teh: lembut tapi bikin mules.
Dia ngajak kita buat mikir: jangan-jangan, kita semua ini masih Dukuh Paruk yang lebih suka tradisi dari logika, lebih suka stigma dari empati.
Srintil Hari Ini: Masih Ada di Mana-mana
Ndoro, Srintil itu bukan cuma tokoh fiksi. Dia ada di mana-mana. Di kampung, di kantor, bahkan di dunia maya. Setiap kali perempuan dikerdilkan karena norma, setiap kali suara minor dituduh makar, di situlah Srintil masih menari. Bedanya, sekarang musik pengiringnya bukan gamelan, tapi cuitan viral dan komentar netijen.
Dan kita? Masih jadi penonton yang cuma nonton, kagum, lalu pulang.
Kesimpulan: Jangan Cuma Nonton, Goyang!
“Ronggeng Dukuh Paruk” bukan sekadar novel, tapi ajakan halus buat mikir: kita ini mau jadi Srintil yang berani nari lawan ketidakadilan, atau jadi Rasus yang kabur karena takut kenyataan?
Indonesia sudah terlalu lama joget di tempat, Ndoro. Saatnya nari ke depan—dengan kepala tegak, bukan pundak merunduk. Dan kalau perlu, kita nari sambil tertawa. Biar reformasi nggak selalu dibahas dengan wajah kecut kayak minum jamu basi.
Mari kita rayakan sastra, rayakan Srintil, dan rayakan kebebasan… dengan tarian yang bikin sistem lama gelagapan!
















