Gareng Petruk – Kupang, Nusa Tenggara Timur
Di tengah panasnya matahari NTT dan dinginnya realisasi program, sebuah kabar menggembirakan datang dari ruang kerja Gubernur NTT, Melki Laka Lena. Bukan karena AC-nya dingin atau kursinya empuk, tapi karena BAKTI TASKIN (Barisan Andalan Kesetiakawanan Pengentasan Kemiskinan) datang dengan niat mulia: “Pak Gubernur, kami minta satu desa aja… yang paling miskin pun kami siap dampingi!”
Permintaan sederhana tapi penuh makna. Karena di Indonesia, kadang permintaan satu desa bisa lebih ribet daripada bikin tol lintas provinsi.
Gubernur Siap: “Cari yang Paling Susah Aksesnya, Sekalian Uji Nyali!”
Pak Gubernur menyambut niat suci BAKTI TASKIN dengan gaya khas pemimpin progresif:
“Cari desa yang paling miskin, paling jelek jalannya, paling susah sinyalnya. Yang penting kita benahi bareng-bareng!”
Buat yang belum tahu, BAKTI TASKIN alias BATAS ini bukan komunitas ngopi-ngopi sore. Ini organisasi akar rumput dengan cita-cita besar: menggempur kemiskinan lewat aksi nyata dan kerja bareng, bukan hanya seminar dan foto bareng.
Dipimpin oleh Dr. Thomas Langoday sebagai Koordinator Wilayah NTT, bersama Ir. Oswaldus (Ketua DPW) dan Dr. Marius Marsi (Sekretaris), rombongan ini datang lengkap dengan proposal, semangat, dan harapan:
“Kami siap bersinergi dengan OPD, provinsi, kabupaten, kota, bahkan RT kalau perlu!”
Satu Desa Dulu, Baru Nanti Satu Provinsi
Permintaan satu desa untuk dijadikan pilot project terdengar sederhana. Tapi di balik itu, ada skema besar untuk mengentaskan kemiskinan dari dasar—bukan cuma dari panggung pidato.
“Kalau satu desa ini sukses, kita bisa jadikan model untuk ribuan desa lain di NTT,” kata Gubernur sambil senyum penuh strategi.
Dukcapil Bilang: “Miskin Itu Bukan Cuma Soal Uang, Tapi Juga Soal Akta Kelahiran”
Turut mendampingi, Kepala Dinas Dukcapil NTT, Johny Ericson Ataupah, menyampaikan fakta menyedihkan sekaligus menyentil:
“Masih ada sekitar 300 ribu anak di NTT yang belum punya akta kelahiran.”
Wah! Ternyata selain miskin akses dan ekonomi, banyak warga juga miskin administrasi. Anak-anak tumbuh tanpa akta, ibarat negara bilang: “Maaf, kamu belum resmi jadi warga.”
Padahal untuk bikin program bantuan, data itu kunci. Gimana mau bantu kalau identitas aja nggak kelihatan? Masa harus nunggu anaknya viral dulu baru dapet akta?
Dewan Pakar: Kredit KUR Disuruh Naik, Tapi Syaratnya Kayak Ujian CPNS
Alfridus Bria Seran, ST, sang Dewan Pakar BATAS, mengangkat satu masalah klasik tapi abadi: akses KUR (Kredit Usaha Rakyat).
“Syaratnya makin lama makin ribet. Dulu cukup KTP dan niat usaha. Sekarang, perlu SPT, slip mimpi, dan surat keterangan dari tetangga!”
Padahal banyak peternak di Amarasi Barat sudah siap, dari bibit sapi sampai rumput King Grass. Tapi apa daya, rumput udah ada, kredit tak kunjung cair.
Kritik Gareng: Jangan Sampai Program Jadi Foto dan Spanduk, Tapi Desa Tetap Lapar
Redaksi Gareng Petruk menyoroti bahwa niat baik tanpa dukungan sistem bisa jadi niat basi. Jangan sampai satu desa yang katanya “pilot project”, malah jadi “proyek pilot-pilotan” tanpa tindak lanjut. Atau lebih parah: hanya ramai saat launching, lalu sepi saat pelaporan.
“Kalau desa ini dibagusin, jangan cuma untuk masuk nominasi lomba. Tapi beneran dibagusin sampai warganya bisa makan tiga kali sehari tanpa hutang,” kata Gareng sambil ngeteh pahit.
BATAS dan BP Taskin RI: Sinergi Nasional dari Akar Rumput
Walau Ketua Umum DPP Syahrul Zakky dan Sekretaris Umum Suntoro tak bisa hadir langsung, mereka titip salam hormat dari Budiman Sudjatmiko, MSc., MPhil, Ketua Dewan Pembina BATAS sekaligus Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin RI). Dalam waktu dekat, mereka rencanakan kunjungan kerja ke NTT.
Redaksi Harian Nasional Gareng Petruk
Edisi Khusus: “Satu Desa Jadi Cahaya”**
Tertawa, tapi tetap berpikir. Mengkritik, tapi tetap membangun.
Karena kemiskinan itu serius, tapi solusinya tak harus selalu kaku.
Oleh : Suntoro Redaktur Harian Nasional Gareng Petruk
Editor : Satgas Anti Kemiskinan Gareng Petruk

















Ternyata,… Kita punya seniman tidak saja di panggung zoom meeting, tetapi lebih seni di lapangan akar rumput. Hormat pak sekjen Suntoro Hasan. Kalau semua bisa menulis indah dan logis dengan kata-kata sederhana penuh makna seperti ini, semua pembaca di desa miskin akan termotivasi untuk segera keluar dari kubangan kemiskinan. Salam hormat dari NTT.