Gareng: Petruk, aku makin heran. Dulu waktu rezim lama jatuh, banyak orang bersorak. Tapi sekarang, orang-orang yang dulu teriak “Tolak kekuasaan busuk!” malah rebutan duduk di kursi empuk.
Petruk: Lho, itu tandanya kamu belum kenal manusia paling fleksibel sejagat raya: Si Oportunis!
Mereka bukan hanya tukang pindah posisi.
Mereka adalah seniman pengkhianatan,
arsitek tipu daya,
penyusup yang menjilat dengan lidah dua sisi.
—
I. Antropologi Budaya: Oportunis Itu Bukan Budaya, Tapi Parasit
Dalam kajian antropologi budaya, setiap masyarakat punya nilai luhur. Tapi oportunis hidup bukan dari nilai, melainkan dari nilai tukar.
Budaya? Dijual.
Tradisi? Ditinggal.
Prinsip? Dipilah, dipilih, disesuaikan dengan siapa yang berkuasa.
Mereka seperti aktor ludruk yang lupa keluar panggung,
menyamar terus, berganti peran, bahkan saat pentas sudah selesai.
Mereka bisa menyanyikan lagu perjuangan,
sambil menjual skrip-nya ke lawan politik semalam suntuk.
—
II. Antropologi Sosial: Si Tikus Berdasi yang Menari di Bawah Meja Kekuasaan
Dari kacamata antropologi sosial, oportunis adalah makhluk bermuka seribu, namun bermoral minus.
Mereka hadir bukan untuk mendukung atau menentang,
tapi untuk memantau,
mengecoh,
dan bila perlu: menghancurkan dari dalam.
Seperti jamur beracun, tumbuh subur saat musim politik tiba.
Menghisap oksigen kesetiaan, dan menyebarkan spora pengkhianatan.
Kita pikir mereka rekan, padahal mereka mata-mata.
Kita beri kepercayaan, mereka balas dengan pengkhianatan.
Gareng: Tikus paling bahaya bukan di got.
Petruk: Tapi yang bisa duduk sopan di rapat kabinet!
—
III. Antropologi Politik: Mereka Tak Mau Kekuasaan, Mereka Ingin Menjadi Kekuasaan Itu Sendiri
Dari sisi antropologi politik, oportunis bukan lagi penumpang kekuasaan.
Mereka adalah pembajak kapal yang menyamar sebagai awak.
Mereka akan tepuk tangan saat engkau pidato,
dan menusukmu saat listrik padam.
Mereka paham betul ritme kekuasaan.
Mereka tahu kapan menunduk, dan kapan menggulingkan.
Mereka ikut menangis saat engkau diserang,
padahal tangan merekalah yang pertama menulis naskah drama itu.
—
IV. Identitas Oportunis: Bukan Pejuang, Bukan Pengikut, Tapi Pengintai
Mereka bukan pahlawan.
Mereka bukan pendukung.
Mereka juga bukan penentang.
Mereka adalah predator kesetiaan.
Loyalitas bagi mereka adalah sandiwara.
Integritas adalah kostum panggung.
Dan idealisme adalah puisi yang hanya dibaca saat kampanye.
Mereka menjilat siapa pun yang berkuasa,
dan menginjak siapa pun yang jatuh.
Seperti hantu di lorong istana, mereka muncul saat krisis, dan menghilang saat dibutuhkan.
—
V. Pesan Gareng dan Petruk: Wahai Penguasa, Jangan Salah Pilih Pelayan!
Gareng: Kekuasaan itu bukan sekadar memimpin.
Petruk: Tapi soal siapa yang kau izinkan masuk ke dalam lingkaranmu.
Berhati-hatilah pada mereka yang terlalu sering mengangguk,
terlalu manis bicara,
terlalu rajin hadir,
karena bisa jadi, merekalah peracun minuman malammu.
Seorang oportunis akan mengaku sahabat saat engkau berkuasa,
dan mengaku korban saat engkau tumbang.
Mereka tidak memiliki kubu.
Kubu mereka adalah di mana matahari kekuasaan bersinar terang.
—
VI. Penutup: Negeri yang Diatur Oportunis Akan Jadi Teater Penuh Mayat Integritas
Negeri ini tidak akan hancur karena musuh di luar,
tetapi oleh pengkhianat dalam selimut kekuasaan sendiri.
Oportunis adalah racun demokrasi yang dibungkus dengan plastik ramah lingkungan.
Tampak bersih, tapi isinya busuk.
Bau amisnya muncul ketika kekuasaan goyah.
Petruk: Jika pemimpin tidak mampu membedakan pengabdi dan penjilat, maka negeri akan dipenuhi oleh aktor, bukan pejuang.
Gareng: Dan kita, rakyat kecil, akan menonton teater horor tanpa tiket, tapi ikut menanggung semua harga tiketnya.
—
Salam paling getir dari Gareng & Petruk:
“Kami rakyat kecil tak bisa memilih menteri, tapi kami tahu siapa yang jual hati untuk kursi.”
















