“Aku cinta Pancasila!” teriak Petruk dengan semangat di warung kopi dekat pos ronda.
“Eh, cinta apanya, Truk? Lha wong tiap bulan gaji sampeyan masih kalah sama harga cicilan rice cooker!” sahut Gareng sambil nyeruput kopi sachet campur doa.
Petruk ngelus dada. Bukan karena sesak, tapi karena dompetnya sudah seperti bendahara RT: sibuk tapi kosong.
💼 Pancasila, Gaji, dan Realita
Sudah 79 tahun lebih kita merdeka, tapi Sila Kelima — “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” — seringkali seperti gebetan yang susah ditemui: ada di angan, tapi tidak di rekening.
Petruk, yang kerja sebagai freelance ojol, kadang kuli panggul, kadang jadi MC hajatan, harus jungkir balik agar bisa makan 3 kali sehari — atau setidaknya 2 kali plus ngopi.
“Katanya keadilan sosial, tapi kok gaji UMR masih kalah sama harga sepeda anak-anak pejabat?” katanya sambil lihat HP-nya yang retak tapi masih bisa buka TikTok.
🔍 Ketimpangan Masih Jadi Sinetron Panjang
Pancasila seharusnya bukan cuma jadi hafalan anak SD waktu lomba 17-an. Tapi harus turun dari dinding kelas, dan masuk ke dapur rakyat.
Coba lihat:
Pekerja informal kayak Petruk belum punya jaminan pensiun.
Gaji guru honorer masih setara uang parkir di mall elite Jakarta.
Petani dan nelayan tiap hari kerja dari subuh, tapi dibayar kayak orang tidur siang.
“Sementara itu, pejabat naik mobil dinas, ngantor cuma buat rapat sambil ngopi dan selfie,” kata Petruk, dengan nada antara sedih dan pengen jadi PNS.
🧠 Pancasila Bukan Slogan, Tapi Sistem Nilai
Kalau kita betul-betul cinta Pancasila, seharusnya sistem ekonomi kita adil, bukan kaya kuis: yang menang cuma satu, yang lain jadi penonton.
Keadilan sosial itu:
Rakyat kecil bisa hidup layak.
Gaji cukup buat beli beras, bukan utang.
Tidak ada kesenjangan ekstrem antar kaya dan miskin.
Negara hadir bukan pas kampanye doang.
🎤 Penutup dari Petruk
“Bro, aku cinta Pancasila. Tapi kalau gajiku masih gini, aku curiga jangan-jangan yang adil cuma slogan partai,” ujar Petruk sambil nyalain motor bututnya, siap ngojek lagi.
Gareng cuma geleng-geleng. “Semangat, Truk. Semoga bulan depan naik UMR, atau setidaknya, naik subscriber YouTube sampeyan.”
—
#GarengPetrukMedia
#SatirRakyat
#PancasilaKeseharian
#Keadilanbukankhayalan
















