Pak…
Kami tahu, posisi sampeyan tinggi. Jauh di atas sana. Tempat di mana angin sejuk, tapi rakyat nggak kedengeran teriaknya. Tapi jangan salah, meski kami ini cuma segelintir—kadang malah segentong—kami ini yang tiap hari bersentuhan langsung dengan jalan berlubang, harga cabe yang ngambek, dan sinyal HP yang suka ngilang pas live TikTok demo.
Bukan berarti kami baper.
Bukan juga pengen viral.
Kami cuma pengen sampeyan tahu:
Kami masih ada. Dan belum jadi apatis. Masih setia meski nasi kadang tinggal keraknya.
Pak…
Kami memang tak diundang di ruang-ruang mewah.
Kami nggak diliput media, apalagi dapet honorarium.
Tapi kami yakin, apa yang kami lakukan ini bukan karena gaji. Tapi karena janji—janji kepada nurani. Bukan nurani pejabat, tapi nurani sebagai anak bangsa yang kalo denger kata “NKRI harga mati” itu bukan slogan jualan kaos!
Kadang kami jalan kaki, kadang naik motor butut, kadang naik doa. Tapi yakinlah, langkah kami itu bukan gegara bensin naik, tapi karena semangat nggak pernah turun!
Pak…
Teruslah berjalan.
Kalau capek, istirahat boleh, tapi jangan lupa bangun. Jangan sampe bangsa ini ikut tidur.
Kobarkan itu semangat patriot! Tapi jangan kobarkan anggaran tanpa laporan.
Teriakkan bahwa kita ini prajurit kebenaran! Tapi jangan lupa kebenaran juga butuh data, bukan drama.
Lantangkan bahwa kita ini pasukan penjaga negeri! Tapi jangan sampe penjaga yang cuma muncul waktu apel pagi dan bubar pas jam nasi kotak.
Kami ini pasukan akar rumput.
Yang kalau hujan kehujanan, kalau demo kehausan.
Tapi kalau ditanya siapa yang siap pasang badan demi negeri, kami angkat tangan—tanpa disuruh!
Pak…
Kami memang tak dekat.
Tapi bukan berarti kami jauh dari cita-cita.
Kami tak berseragam keren,
Tapi dada kami penuh keberanian.
Jadi, meski kami tak tampak di balik kamera,
Kami tetap bergerak di balik layar:
Menjaga negeri dari retaknya kepercayaan,
Melindungi bangsa dari lapuknya harapan.
Kalau suatu saat Pak ingin tahu siapa kami,
Kami ini rakyat. Yang mungkin tidak punya pangkat.
Tapi kalau bangsa ini butuh pasukan,
Kami ini siap, meski baju kami masih bau solar.
Pak… kobarkan! Lantangkan! Teriakkan!
Kami akan dengar.
Meski tanpa toa. Meski tanpa selebaran.
Karena telinga kami sudah terlatih menangkap suara hati.
Dan kami masih di sini.
Masih setia.
Masih percaya.
—
Gareng bilang:
“Jangan lupakan kami, Pak. Karena sejarah bangsa ini bukan cuma ditulis di gedung parlemen, tapi juga di warung kopi dan di peluh rakyat yang tak pernah absen mencintai negeri ini, meski negeri ini kadang lupa nyapa balik.”















